• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Wisata
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kesehatan

Kam15112018

Last updateRab, 14 Nov 2018 6am

Pemerintahan

Rani Febriani Didaulat Wawar ‘Babad Luragung’

Rani Febriani

Kuningan Terkini- Hari Jadi ke 578 Desa Luragung Landeuh, Kecamatan Luragung, di Kampung Babakan Patala, penuh dengan nuansa budaya, Rabu (12/9). Berbagai rangkaian budaya sebagai pengingat, sekaligus memiliki kandungan makna tinggi kesejarahan Luragung ini ditunjukan secara apik. Didaulat sebagai pemapar Babad Luragung ialah Sejarawan Muda Kuningan, Rani Febriani S.Si Mhum.

Ikut menyaksikan Budayawan, sekaligus ketua panitia Apih Nono, Tokoh Luragung Ading Sugandi, Camat Luragung Beni Prihayatno, Kabid Kebudayaan Dodon Sugiharto, ratusan budayawan lain, serta ribuan masyarakat sekitar. Harjad bertema “Nyucruk Galur Ngambah Tanah Nu Mimiti” ini, dimulai Kirab Budaya Pusaka Luragung.

Menyusul Teatrikal Rampak Tanah Mimiti dan Bianglala Gadis Kecil, Paparan Babad Luragung, Wawar Bumi, dan Kunjung Buyut. Tak kalah menarik, ada tebar benih ikan dan Munday Cisanggarung, Teatrikal Cingcowong Bilguna Bilamana, terakhir Pagelaran Seni Tradisional.

“Ibu Rani punya potensi bagus. Pendidikan dan wawasan tentang kesejarahan Kuningan, terutama Luragung juga bagus. Harapan besar saya Ibu Rani ini menjadi penerus. Maka, kita semua sepakat Pemapar Sejarah Luragung, atau Babad Luragung ini diserahkan ke Ibu Rani,” ungkap Budayawan Kuningan ternama, Apih Nono.

Menurut Apih Nono, harjad digagas untuk memberi jawaban kepada kebekuan informasi tentang kapan Harjad Luragung. Sebab berdasar cerita legenda dari mulut ke mulut, bahwa Luragung ini memiliki peradaban. Tapi bukti-bukti tersebut, hanya berada pada mitos belaka. Ia pun berterus terang, sejauh ini tidak pernah ada peringatan Harjad Luragung. Harjad Luragung ini, digagas dengan harapan bisa membuka wawasan dan pikiran masyarakatnya agar bersama melakukan perenungan.

"Aneh bagi saya, kita kelahiran Luragung tetapi tidak tahu kapan Luragung berdiri. Terus terang kita belum punya titi mangsa sebenarnya, kapan Luragung berdiri,” tandas Sesepuh Luragung ini, seraya menegaskan bahwa Ia akan selalu membuka ruang diskusi bagi siapapun tentang sejarah Luragung.

Sejarawati Rani Febriani mengaku bangga telah dipercaya membacakan Babad Luragung, pada Harjad Luragung Landeuh ini. Jebolan S2 Filologi Unpad Bandung ini, mengaku sejak awal memang sudah tertarik dengan misteri Babad Luragung. Banyak situs-situs di setiap pelosok Luragung dan sekitarnya, yang mesti dicari tahu sejarahnya. Apalagi usia Luragung, lebih tua dari usia Kuningan.

“Kita akan terus mencoba menginventarisir apapun informasi tentang sejarah Luragung. Kebetulan, masih banyak orang tua mengetahui sejarah Luragung. Hanya sayang, pengetahuan mereka tidak tertulis, apalagi tulisannya dikumpul dalam satu buku. Kedepan, InsyaAllah kita coba bukukan sejarah Luragung. Minimalnya untuk pengetahuan anak cucu Luragung,” ungkap putri dari pasangan H Lili Suherli dan Hj Emil Jamilah ini.(red)

Add comment


Security code
Refresh