• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Wisata
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kesehatan

Sen18122017

Last updateSen, 18 Des 2017 10am

Wisata

Kegiatan Seni di Kuningan Mati Suri?

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kuningan, Dodon  Sugiharto SPD. MPD

Kuningan Terkini - Pembahasan mengenai budaya bukan perkara yang mudah. karena budaya meliputi hasil karya seni manusia, bahasa, model bangunan hingga sistem politik. Demikian disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kuningan, Dodon Sugiharto SPD. MPD, kepada Kuningan Terkini, Selasa (19/07/2017).

"Kebudayaan harus menjadi ruh dan memayungi setiap kegiatan di bidang pendidikan,” kata Dodon menjelaskan.

Ini kata Dodon, merupakan penegasan terhadap pertanyaan masyarakat atas perubahan nomenklatur kementrian dimana bidang kebudayaan kembali bersatu dengan bidang pendidikan seperti zaman sebelumnya. Perubahan ini didasari dari hasil kajian atas kebijakan sebelumnya. Dimana, ada efek buruk ketika dunia pendidikan tidak dipadukan dengan pengenalan, penanaman nilai dan pewarisan nilai-nilai budaya kepada para siswa.

“Siswa seperti kehilangan karakter yang berbasiskan budaya sehingga terlihat seperti tidak ada nilai bahkan seperti mati suri, jika budaya tidak di cuatkan secara rinci dan jelas. Siswa seperti kehilangan pegangan soal etika, estetika dan kinestetika, mana yang harus dipegang dalam perkembangan dirinya," ungkapnya.

Pada akhirnya jelas Dodon, siswa seperti gamang dan menyerap mentah-mentah apa yang mereka lihat, mereka rasa dan mereka dengar. Budaya sebagai cara hidup masyarakat yang hidup disebuah wilayah dan diwariskan secara turun temurun, harus mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

“Tiga wujud kebudayaan, yaitu fikiran atau falsafah, kegiatan atau akrifitas (seni dan para pelakunya) dan Artefak memerlukan perlakuan serius dalam bentuk regulasi dan penganggaran,” ujarnya.

Saat ini terang Dodon, seluruh kegiatan seni dan seniman di Kuningan dalam keadaan mati suri, karena dinas belum maksimal memberikan perhatian. Dalam perjalanan setelah bulan Desember 2016, dinas banyak menerima undangan dari kabupaten/kota lain untuk mengirimkan aktraksi seni budaya khas kuningan dalam kegiatan mereka.

“Namun, sampai saat ini undangan itu hanya tersimpan di meja. Semestinya pemerintah memberikan alokasi dana secukupnya untuk kegiatan apresiasi seni budaya, baik tingkat lokal, regional dan nasional," pungkasnya. (Rey)

Add comment