• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Wisata
  • Olahraga
  • Kesehatan

Sel25022020

Last updateSen, 24 Feb 2020 7pm

BJB

Aneka

Kutukan Ular Hitam - Bagian 1

Abun Burhanudin.

Oleh Abun Burhanudin

Rohani (35th) yang sedang asyik mencuci pakaian di sungai, tiba-tiba saja kaget ketika tak sengaja kakinya menyentuh sebuah benda yang licin. Makin kagetnya lagi saat ternyata di dekat kakinya itu adalah dua ekor ular sanca yang ukurannya sangat besar. Saking paniknya, Rohani lalu mengambil sebuah batu kemudian dilemparkannya ke arah kedua ular itu hingga mati seketika.

Sejenak Rohani terdiam. Ada perasaan menyesal di dalam hatinya. Kenapa dia membunuh binatang yang tidak berdosa. Tapi fikiran itu kemudian hilang. Kalau aku tidak membunuhnya, pasti aku yang akan mati dipatuk oleh kedua ular itu. Tiba-tiba saja berhembus angin sangat kencang. Bulu kuduk Rohani merinding. Tak lama kemudian terdengar suara tanpa wujud yang mengatakan bahwa perbuatan Rohani akan terbalaskan. Kelak anak Rohani akan merasakan nasib yang sangat tragis. Anakmu akan binasa. Mati tidak wajar. Rohani segera pulang dan menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Saud, suaminya.

Saud terdiam. Ini bukan pertanda baik. Aku harus mencari cara agar kutukan itu tidak terjadi. Saud kemudian pergi berwudu lalu shalat 2 rakaat. Dia berdoa Agar Allah menjauhkan dirinya dan keluarganya dari segala macam fitnah dan musibah. Peristiwa yang dialami oleh Rohani terus menghantui fikirannya. Betapa tidak, rumah tangga Rohani dan Saud sudah berlangsung lama, tapi belum juga dikaruniai anak.

Kini, saat mengandung anak pertamanya, tak disangkanya malah mendapat ancaman kalau kelak nasib yang akan menimpa anaknya akan sangat tragis. Rohani benar-benar kuatir kalau kutukan itu benar-benar akan terjadi. Hari-hari Rohani selanjutnya tampak tidak seceria sebelumnya. Perempuan itu banyak melamun.

Saud terus berusaha menghiburnya dan menasehatinya. Katanya, segala sesuatunya harus ia pasrahkan kepada Allah. Sebab apapun yang terjadi tidak terlepas dari kehendaknya. Waktu terus berlalu. Tak terasa usia kandungan Rohani sudah sampai 9 bulan. Bidan meramalkan kalau Rohani akan melahirkan dalam beberapa hari ke depan. Rohani bukanya senang, tapi malah fikirannya tidak menentu.

Dia kuatir kalau kelahiran anaknya yang pertama itu tidak akan berjalan dengan mulus. Saud berkali-kali menenangkannya, berharap agar istrinya itu tidak punya fikiran buruk. Berdoalah kepada Allah karena Dia maha pengasih lagi penyayang. Beberapa hari kemudian tepat menjelang subuh, Rohani akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki. Saat kelahirannya berbarengan dengan kejadian gempa. Rohani sangat kuatir takut terjadi apa-apa sama bayinya. T

api ternyata kekuatirannya tidak terjadi. Bayi laki-laki itu lahir dengan keadaan mulus. Karenanya, Saud menamakan anaknya pertamanya itu Mulus Mulya Rahayudin. Artinya mulus dan mulia rahayu. Rohani sangat merasa senang. Rasa takut Rohani pada kutukan ular lama-lama mulai terlupakan. Hilang oleh rasa senang dengan kelahiran Mulus. Rohani tampak sangat menyayangi anak pertamanya tersebut.

Hampir semua waktunya tersita untuk mengasuh Mulus. Saud juga demikian. Dia lebih semangat lagi bekerja. Dia ingin bisa membiayai Mulus, supaya kelak anaknya tersebut punya nasib yang lebih baik dari dirinya. Meskipun usia Mulus masih kecil, Saud terus mendidiknya dengan pendidikan agama, agar nanti Mulus juga menjadi anak yang soleh.

Beberapa tahun kemudian, Rohani kembali hamil anaknya yang kedua. Rasa senang mereka semakin bertambah lagi. Rohani bilang kalau dia berharap anak keduanya nanti seorang perempuan. Tapi kata Saud, baik laki-laki ataupun perempuan sama saja. Mereka tetap saja anugrah dari Allah.

Tapi suatu malam, Rohani bermimpi buruk. Mulus yang sedang bermain di halam rumahnya tiba-tiba dipatuk ular. Anehnya, Rohani yang saat itu berdiri disamping Mulus tidak bisa berbuat apa-apa. Rohani menjerit minta tolong..

Bersambung....

Add comment


Security code
Refresh