• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Wisata
  • Olahraga
  • Kesehatan

Sen10082020

Last updateSen, 10 Agu 2020 5pm

BJB

Aneka

Penggiat Budaya Kuningan Pertanyakan DKK

Dodo Suwondo

Kuningan Terkini - Lembaga-lembaga kesenian produk pemerintah di Jawa Barat belakangan mengalami penurunan kinerjanya. Sehingga berimbas ke daerah-daerah tak terkecuali Kabupaten Kuningan. Khususnya Dewan Kesenian Kuningan (DKK) mengalami “mati suri” cukup lama. Jadi tak heran apabila ada pihak yang mempertanyakan eksistensinya. Dikarenakan organisasi tersebut sudah bermetamorfosis menjadi Dewan Kebudayaan.

“Saya bertanya sama temen-temen, apakah dulunya di Kuningan ada lembaga sejenis kebudayaan yang menaungi kiprah para seniman, budayawan dan lainnya,” kata Deri Batok (Komunits Barudak Totopong Kuningan), menyoroti keberadaan DKK.

Jika ada lanjutnya, tentu pihaknya ini dari generasi muda ingin memberikan sumbangsih pemikiran dan kekaryaan untuk menstimulasi khazanah budaya Kabupaten Kuningan. “Saya tidak berpikir jauh tentang kebudayaan yang belum ada di Kabupaten Kuningan. Tapi minimal yang sudah ada kita rawat dan dilestarikan sebagaimana mestinya,” ungkapnya.

Apalagi sambungnya, organisasi kesenian atau kebudayaan bentukan pemerintah seharusnya berjalan sesuai dengan fungsinya. Jika pemerintah membentuk steckholder kemudian tidak berkerja maksimal. Tentu harus dipertanyakan. Sebab sedikitnya ada uang rakyat yang harus dipertanggungjawabkan di sana. Selain itu, tentu etos kerja lembaga tersebut, harus ditunjukan secara optimal. Sebab banyak garapan kebudayaan atawa lebih kecilnya kesenian. Belum tergarap secara optimal, malahan lebih cenderung diabaikan dan tidak mendapat perhatian semestinya dari lembaga kesenian itu sendiri.

“Kenapa saya mempertanyakan lembaga itu dan etos kerjanya? Dua minggu yang lalu saya diberitahu dan diajak melaksanakan riungan di bungkirit (Taman Kota Bungkirit-red) oleh teman-teman seniman. Rencananya membentuk Dewan Kebudayaan Kuningan (DKK). Rapatnya sudah dua kali dan dikonsultasikan ke pak Sekda Dian Rahmat Yanuar, dan sudah dibentuk tim formatur,” terangnya.

Dirinya masih belum mengetahui latar belakang rencana pembentukan Dewan Kebudayaan di Kabupaten Kuningan. Seharusnya, sebelum dibentuk agar tidak menjadi persoalan ke depan. Perlu adanya pendataan dan sosialiasi. Tanpa itu semua, pihaknya merasa tidak yakin apabila di Kuningan tidak ada budayawan, seniman dan pekerja kreatif seni yang menumbuhkembangkan bidang itu. Tanpa diajak ngobrol terlebih dahulu.

Dodo Suwondo, salah seorang pengurus DKK ketika dihubungi menjelaskan. DKK memang ada dan sebagian pengurusnya masih ada (hidup). Ketua Umumnya Totom Subita Rustaman dan Sekjennya N.Ding Masku. Mereka masih menjalankan aktifitas keseniannya masing-maasing dengan cara masing-masing pula.

“Mengenai rencana adanya pembentukan Dewan Kebudayaan Kuningan memang sudah tercium sejak dua tahun lalu. Ketika Kepala Dinas Pariwisata dijabat Tedi Suminar. Pernah membicarakan masalah organisasi itu. Selain kepadanya, Tedi juga berbicara dengan Djodjo Hamzah dan Wawan Hernawan. Namun pembicaraan itu belum ada tindaklanjut sampai sekarang,” ungkapnya.

Memang, kata Dodo, di Jawa Barat Dewan Keseniannya sudah bermetamorfosis menjadi Dewan Kebudayaan Jaawa Barat dengan ketuanya pa Ganjar Kurnia. Tentu di Kabupaten Kuningan pun harus menyesuaikan dengan keberadaan lembaga itu di Jawa Barat. “Jika ada pihak yang mempertanyakan organisasi itu wajar saja,” terangnya.

Dewan Kebudayaan sambung Dodo, lahir tidak ujug-ujug. Organisasi ini merupakan peleburan dari lembaga yang ada. Dan memang benar, seperti diungkapkan Saudara Deri bahwa pengurus DKK yang lama harus diajak bicara, juga para senior lainnya. Karena, landasan atau pijakannya sudah ada. Hanya bagaimana kedepannya. Harus dirembukan kembali sesuai khitah organisasi.

“Organisasi kebudayaan atau kesenian yang paham ya para budayawan dan seniman bukan pihak lain. Bukan tidak boleh mengurusi tapi kapasitasnya apakah memahami, menguasai dan minimal sudah menciptakan karya yang mumpuni untuk memperoleh gelar budayawan atau seniman itu sendiri. Gelar seniman misalnya, hanya diperoleh orang dengan susah payah berkarya bukan hanya omong belaka,” cetus Dodo Suwondo yang di tahun 2019 menerbitkan buku puisi genre Jepang yakni Haiku. (red)

Add comment


Security code
Refresh