• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Wisata
  • Olahraga
  • Kesehatan

Sab25092021

Last updateKam, 23 Sep 2021 10pm

BJB

Aneka

TNI-POLRI Dalam Konteks Tradisi Integrasi Keilmuan Islam

Awang Dadang Hermawan

Oleh: Awang Dadang Hermawan. (Pemerhati intelijen sosial politik dan SARA)

Kuningan Terkini - Dalam bahasa Arab, amar ma’ruf nahyi munkar berarti mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari berbuat kemunkaran. Spirit dari istilah ini adalah mengajak kepada diri sendiri dan orang lain untuk melakukan hal-hal yang dipandang baik, serta mencegah diri sendiri dan orang lain untuk tidak melakukan hal-hal yang dipandang buruk oleh agama.

Islam menjadikan amar ma’ruf nahi munkar sebagai kewajiban dasar yang harus dijalankan oleh setiap muslim sesuai dengan kadar kesanggupan masing-masing. Hal itu sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis, barang siapa diantara kalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangan (tindakan atau kekuasaanNya).

Barang siapa tidak mampu melakukannya, maka hendaklah ia mengubahnya dengan lisannya. Barang siapa yang tidak mampu melaksanakannya, maka hendaklah ia mengubahnya dengan hatinya. Dan yang terakhir itu adalah selemah -lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Dalam ayat-ayat al-qur'an, perintah amar ma’ruf selalu disandingkan dengan perintah nahyi munkar. Ini berarti bahwa mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran, keduanya harus berjalan beriringan. Allah SWT bahkan menjadikan amar ma’ruf nahyi munkar sebagai ciri dari umat terbaik sebagaimana disebutkan dalam Surat Ali Imran ayat 110.

Amar ma’ruf nahyi munkar harus dijadikan sebagai prinsip bagi setiap muslim. Karena spirit ini yang akan menjadi kontrol dalam mewujudkan terciptanya masyarakat yang beradab dan tdk biadab. Demikian pentingnya, sehingga banyak sekali ayat-ayat al-qur'an yang berbicara tentang amar ma’ruf nahyi munkar ini, di antaranya

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى* الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِوَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh untuk berbuat yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S Ali Imran: 104). Kata hendaklah ada tersebut diatas itu artinya jumlah orang tidak banyak.

Tingkatan Amar Ma'ruf Nahyi Munkar menurut Imam Ghazali.

Kitab Ihya’ Ulumuddin, yang merupakan MAGNUM OPUSnya Imam Ghazali, mengitegrasikan dua mainstream keilmuan dalam tradisi Islam, yaitu Fiqh dan Tasawuf.

Dalam kitab yang juga menjadi primadona kalangan pesantren ini, Imam Ghazali menjelaskan pentingnya integrasi fiqh dengan tasawuf, karena jika menitikberatkan kepada aspek fiqh akan kehilangan substansi, dan jika mengedepankan tasawuf maka kehilangan kerangka formal yang sangat dibutuhkan dalam suatu tindakan.

Salah satu contohnya adalah hadis popular yang memerintahkan umat Islam untuk menghilangkan kemunkaran dengan tangan (power), lisan (nasehat), dan hati (mendiamkan)

Imam Ghazali memberikan penjelasan yang sangat indah, yaitu stratifikasi amar ma’ruf- nahyi munkar (memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran) yang terdiri dari empat tingkatan.

Pertama, memberitahukan dan atau memberikan informasi dengan benar (al-ta’rif). Dalam menangani musibah Covid 19 dewasa ini sudah dilaksanakan pemerintah dan banyak pihak berkompeten memberikan informasi dengan baik dan benar. Dan ketika kemudian ada kekurangan dan atau ketidak sempurnaan, janganlah jadi perdebatan, terlebih saling hujat menghujat. Itu sama sekali TIDAK ADA MANFA'ATNYA. Hindari menjadi penghuni negeri yg STRES !

Kedua, memberikan nasehat (al-wa’dzu). Apa yg sudah dihadirkan pemerintah dlm konteks Undang Undang dan regulasi lainnya kepada rakyat serta dilakukan sampai pada tingkat pelaksanaannya, apakah rakyat menerimanya dlm menangani Covid 19?

Ketiga, memberikan peringatan dengan keras (at-takhsyin fil qaul). Peringatan itupun sudah dikeluarkan dalam kontek HADIRNYA PPKM dan adanya bantuan pengamanan PAMSUNG dan PAMTUP DARI INSTITUSI TNI-POLRI.

Keempat, mencegah dan memukul dengan kekuatan (al-man’u wal dharbu bil yad). INILAH YG BELUM DILAKUKAN Dipoint nomor empat terakhir inilah TUGASNYA TNI -POLRI TAMPIL BERSATU, BERSAMA OTORITAS BERKOMPETEN lainnya yang didalamnya ada Pelibatan rakyat terbina, atas dasar sebelumnya sudah matang dipersiapkan LANGKAH KONTIJENSI. Atau Dimatangkan kembali langkah Kontijensi dimulai Awal Agustus 2021

Kembali Menurut Imam Ghazali, untuk tingkatan masyarakat umum ada pada yang pertama dan kedua. Alhamdulillah saat ini kita bisa menyaksikan maraknya pemanfaatan medsos sebagai pengamalan amar ma'ruf nahyi munkar pada tingkatan pertama dan kedua (Info Hoax tidak termasuk).

Untuk tingkatan ketiga, adalah hak penguasa, supaya tidak menimbulkan fitnah. Sedangkan untuk yang keempat (memberikan peringatan keras), Imam Ghazali memberikan perincian, bahwa jika memberikan peringatan keras akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar, maka itu pun tidak dibenarkan, karena dalam Islam ada kaidah دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى

مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

Menghilangkan kemudharatan itu lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan. Bisa juga diterjemahkan Menjaga jangan terjadi kerusakan, lebih baik daripada berbuat baik.

Ada bukti Contoh baik dari TNI-POLRI dalam konteks Pengamanan Pemilu 2019, Pilpres-Pileg 2019, pengamanan Papua, kendati gejolak separatis tetap ada, Pengamanan Hari Besar keagamaan dan kini dihadapkan dengan mahluq bernama Virus Corona/Covid 19, semua itu sudah jelas TNI DAN POLRI masuk Ranah menjalankan Kaidah Fiqih Islam tersebut diatas. Mulai dari Mengawal pihak pihak yang kerja keras untuk Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Antara lain para dokter, perawat dan tenaga ahli lainnya yg sedang bertempur digarda terdepan berhadapan dengan virus Corona!. Ketika ada yang menyalahgunakan TUPOKSINYA, TINDAK TEGAS ! KARENA OKNUM ITU MEMANG SELALU ADA ! Kembali ke kaidah fiqih islam.

Maksud kaidah ini adalah, jika berbenturan antara menghilangkan sebuah kemudharatan dengan sesuatu yang membawa kemaslahatan, maka yang harus didahulukan adalah menghilangkan kemudharatan, kecuali bila madharat itu lebih kecil dibandingkan dengan maslahat yang akan ditimbulkan oleh sebab ALHUKMU YARUDDU BI ILLATIHI: KETIKA MENJATUHKAN HUKUM, LIHAT SEBABNYA.

Kemudian? Berdoalah , berdzikir untuk keselamatan, kesehatan bersama dan KITA SEMUA HARUS YAQIN HAQQUL YAQIN AINAL YAQIN BAHWA MAHLUQ BERNAMA COVID'19, IN SYAA ALLAH Tidak LAMA LAGI AKAN HILANG MISTERIUS ATAS PERTOLONGAN ALLAH ARRAHMAANI ARRAHIIMI.***

Add comment


Security code
Refresh