Gadis Kecil Itu Ternyata Roh Halus (Bag 2)
Cerbung Oleh : Abun Burhanudin
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Tiba-tiba “Korosak..!” terdengar suara dari balik semak-semak. Riza dan yang lainnya kaget. Dada mereka berdebar. Bulu kudukpun berdiri. Sinta nampak sangat paling ketakutan, mengira ada hantu. Tak lama kemudian muncul seekor kucing dari balik semak-semak. “Dasar kucing sialan.. Bikin aku kaget saja,” kata Apdil.
Suara-suara lain, seperti burung hantu atau binatang lainnya terus terdengar, menambah suasana semakin seram. Sinta semakin tambah ketakutan. Riza akhirnya memutuskan untuk pulang. Soal Soni biar dicari saja besok. Akhirnya merekapun pulang. Paginya, Riza dan yang lainnya sudah pada bangun.
Riza bercerita kalau dirinya bermimpi seram, didatangi oleh hantu anak gadis berkaki pincang. Anehnya, mimpi yang dialami Apdil dan Sinta juga sama. Mereka semua heran. Jangan-jangan itu adalah hantu yang dantang ke impian mereka. Dari balik dinding, Bi Puri menguping pembicaraan mereka. Tampak wajah pembantu itu sangat sedih. Riza dan yang lainnya teringat lagi pada Soni.
Mereka semua sangat cemas. Anak-anak itu mau pergi lagi untuk mencari Soni. Tapi baru juga mau keluar, Soni sudah keburu datang. Riza bertanya, Soni menjawab kalau dia menginap di rumah teman barunya bernama Febi. “Lain kali kalau mau pergi bilang-bilang.. Bikin semua orang cemas saja..” kata Apdil, kesal. Soni minta maaf. Dia tak sengaja merepotkan teman-temannya. Abisnya dia kasihan sama Febi yang tidur sendirian di rumahnya.
Seperti rencana sebelumnya, Riza selanjutnya mengajak teman-temannya berenang. Soni tidak mau ikut. Katanya dia sudah kepalang janji sama Febi mau main lagi ke rumahnya. Apdil yang sudah faham sifat Soni tidak peduli. Akhirnya anak-anak itu pergi tanpa dibarengi oleh Soni. Setelah sarapan pagi, Soni pergi lagi sendirian, tujuannya ke rumah Febi. Ternyata Febi (kakinya pincang) sudah menunggu di air terjun.
Soni senang. Merekapun akhirnya bermain berdua, tampak sangat asik. Febi minta dipoto. Soni lalu memotonya dengan menggunakan kamera HP. Selanjutnya, Febi mengajak Soni bermain di rumahnya. Di sana Soni kembali photo photo. Soni bertanya, kenapa Febi tinggal sendirian di rumah. Kemana ayah ibunya. Febi tampak sedih lalu bercerita, bahwa orang tuanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Tinggalnya di dekat sini, tapi tidak mau peduli sama dia. Soni heran, masa sih rumah mewah seperti ini pemiliknya hanya bekerja sebagai pembantu. Selain itu kok tega ninggalin anak gadisnya sendirian di rumah?. Begitulah pertanyaan dalam hati Soni. Melihat Soni diam, Febi ngajak Soni bermain lagi, main Game atau permainan anak lainnya. Mereka tampak asik hingga lupa waktu sudah sore.
Sonipun pamit pulang. Febi meng-iyakan, dan meminta Soni untuk bermain lagi besoknya. Soni mengangguk lalu pergi. Sesampainya di rumah, ternyata Riza, Apdil dan Sinta sudah datang. Apdil bilang kalau mereka sangat asik bermain di kolam renang. Airnya jernih, banyak ikannya. Pokoknya, mereka betah bermain di sana.
Sonipun tak mau kalah. Dia juga bercerita soal Febi, teman barunya. Anaknya baik, rumahnya gede, mewah. maenannya banyak. Dia bebas bermain di sana, karena orang tuanya tidak ada. Riza merasa tertarik. “Kalau begitu, besok kita sama-sama main ke sana”. Yang lainnya setuju. Bersambung....