Kuningan Terkini - Mengulang sejarah kejayaan pergerakan mahasiswa di era 70’an, sejumlah organisasi kemahasiswaan kembali mendeklarasikan diri sebagai Kelompok Cipayung versi Kabupaten Kuningan. Dimana, pimpinan organisasi seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menyatakan, siap memberikan kontribusi baik kritik maupun otokritik demi kemajuan bangsa dan negara.
Sementara untuk dua organisasi lainnya, yakni Perhimpunan Mahasiswa Katolik RI (Forkoma PMKRI) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) belum terbentuk di Kabupaten Kuningan. “Kami ingin melakukan otokritik terhadap kondisi bangsa perjalanan bangsa sesuai dengan cita-cita awal saat didirikan,” tegas Ketua PMII Kuningan, Rasdi kepada awak media, Jumat (20/11/2015).
Tak dapat disangkal, lima organisasi Kelompok Cipayung telah menjadi sumber kader baik bagi partai-partai yang sedang berkibar, maupun di berbagai gerakan masyarakat di berbagai bidang. Menurutnya, dengan dideklarasikan kelompok Cipayung juga bertujuan untuk menyikapi berbagai persoalan yang berkembang di daerah. Kelompok Cipayung bersifat independen, karena merupakan gerakan murni perjuangan rakyat/pemuda dalam menyikapi persoalan-persoalan krusial yang terjadi di Kuningan.
“Semangat kita itu begini, belakangan ini mahasiswa terjangkit penyakit hedonisme. Bukan hanya melanda organ intra kampus, tapi juga menimpa organ ekstra. Kemudian, tiap organ cenderung memiliki sikap fanatisme terhadap ideologinya masing-masing,” ungkap Aras sapaan akrabnya.
Oleh sebab itu kata Aras, wajar apabila saat ini mahasiswa bergerak masing-masing dalam menyikapi berbagai isu. Hal itu lah yang membuat para aktivis di kota kuda, harus membaca ulang sejarah perjuangan dimana terdapat kelompok Cipayung yang pernah mendominasi dalam perubahan nasional.
“Kita ingin mengeratkan gerakan mahasiswa di Kuningan untuk kepentingan rakyat. Karena kalau kita lihat beberapa dekade ke belakang, patut dipertanyakan apa yang didapat ketika gerakan mahasiswa dilakukan secara masing-masing,” ujarnya.
Sementara Ketua HMI Kuningan, Tomi Mustopa mengaku, bahwa deklarasi kelompok Cipayung ini dibentuk pada saat pertemuan di Kampus Uniku. Sebetulnya, pembicaraan kearah sana sudah dilakukan sejak lama dan baru terwujud sekarang.
“Jika mengulas sejarah pada 1970-an, OKP yang bersatu dalam kelompok tersebut bukan hanya tiga. Tapi terdapat pula PMKRI dan GMKI. Khusus dua OKP ini belum terbentuk di Kuningan, sehingga kelompok Cipayung baru diisi tiga OKP,” jelasnya.
Hal serupa juga dipertegas Ketua GMNI Kuningan, Imma. Dirinya menginginkan, agar peran mahasiswa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Posisi mahasiswa sebagai agen sosial kontrol harus berada di tengah-tengah antara masyarakat dan pemerintah. Untuk mewujudkan harapan tersebut dibutuhkan sebuah persatuan gerakan mahasiswa.
“Jangan sampai ada pihak-pihak yang mempertanyakan kemana idealisme mahasiswa sekarang ini, lalu mempertanyakan kemana gerakan mahasiswa. Saya pikir banyak persoalan penting yang perlu disikapi mahasiswa,” pungkasnya.(AND)