Kuninganterkini, Bandung - Para Inohong Bandung, menggelar ngawangkong untuk membahas Nasib koloni ribuan burung blekok (ardeola speciosa), dan kuntul kerbau (bubulkus ibis) yang kerasan tinggal sejak 1970-an di Rancabayawak, Cisaranten Kidul Gedebage di pinggiran selatan Kota Bandung. Hal ini menyusul santernya di area Gedebage akan segera dibangun kota super modern, Teknolopis.
Pada 19 Maret 2016 di Waroeng Setiabudhi, Bandung, si blekok, begitu burung ini dominan di Rancabayawak, dibahas nasibnya. Para inohong itu, diantaranya, Memet Hamdan, Mantan Kadisbudpar Jawa Barat; Taufan Suranto, DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda); Kompol Syarif Hidayat, Kasiwas Polrestabes Bandung; Budayawati, Chye Retti Isnendes, Henny Mustika Sari, Lurah Cisaranten Kidul; Wati Tarso, Disbudpar Kota Bandung; dan beberapa tokoh lingkungan, keagamaan serta mahasiswa dari berbagai kampus di Bandung.
“Saatnya, si blekok kita pikirkan dan cari solusinya. Agar hewan lucu ini tak tergerus teknopolis yang katanya mau meniru silicon valley di Amrik sana,” kata Yuana Rian T, Penyelenggara Ngawangkong (diskusi) dari gabungan Muslimbandung.id dan Paguyuban Nyaah ka Bandung.
Inilah saripati ngawangkong yang berlangsung seru itu. Andaikan cekungan Bandung sebagai daerah terendah dipaksakan dibangun teknopolis seluas kurang lebih 500 – 800 hektar, setidaknya harus memperhatikan Lima Awas – ini demi menyelamatkan koloni ribuan burung di lahan basah sana.
Lima Awas itu, pertama, ruang terbuka hijau (RTH) akan berkurang. Kedua, kawasan Gedebage itu cekungan paling rendah di Bandung – makanya, banjir selalu terjadi. Ketiga, kawasan ini sedari dulu, sebagai area puting beliung (Ini jalur angin yang berhembus dari utara menuju selatan lewat lorong Gunung Manglayang). Keempat, kawasan Gedebage itu area amblasan tanah (Contoh nyata GBLA sekarang sudah bermasalah. Kalau ada gempa besar, bagaimana). Kelima, Teknopolis yang dibanggakan itu, akan mengurangi daerah tangkapan air.
Mau dibangun waduk disana, nasib si blekok bagaimana. Jangan-jangan keburu kabur, malah. Memet Hamdan, menyorot tajam, betapa para pemilik kekuasaan di Bandung. ”Tak punya road map dan culture map. Dua hal ini selalu tak jelas dijadikan arah kebijakan pembangunan. Yang terjadi, kegagalan pada banyak sisi,” kata Memet.
Lainnya, Utun Sutrisna Sastrawijaya, pegiat lingkungan dari Alumni ITB ’75, walaupun tak ikut bicara di forum ini, Ia bersama puluhan rekannya punya perhatian besar untuk menyelamatkan si blekok dari ancaman teknopolis. “Kami berpacu dengan waktu. Mau ikut mengkaji AMDAL-nya,” terangnya.
Rupanya, berkat penyelenggaraan ngawangkong yang cukup apik . Tak urung banyak peserta inginkan kegiatan lanjutan. “Nanti kita lakukan di Rancabayawak. Bisa sambil menikmati hidangan khas daerah setempat, kan?”, tanya Ernita (35), ibu rumah tangga yang peduli pada lingkungan, kepada panitia penyelengara.
Saat itu pula, pertanyaan Ernita, langsung dijawab Yuana:”Mari kita persiapkan pertemuan mendatang. Siapa tahu Kang Emil (Ridwan Kamil, Walikota Bandung), bisa hadir disana. Kali ini Ia berhalangan, memang”. (Harri Safiari/Shahadat Akbar).