Aneka

Bandung Pasti Asyiik, Musisi Punya Cerita

Erwin Gutawa saat menjelaskan tentang suksesi dan kegagalan musisi.

Kuningan Terkini, Bandung - Jreng pertama dari helatan Bandung Pasti Asyiik - Festival Musik 7 Titik yang rencananya berlangsung 20 April - 29 Mei 2016, mengupas perbincangan bertajuk Musisi Punya Cerita. Dipandu MC Angga, pada helatan pertama di Butterfield Kitchen, Bandung, Rabu (20/4/2016), menampilkan Rieka Roesland, pencipta lagu dan arranger yang banyak mewarnai dunia musik tanah air sejak era 80-an, dan Ari ‘Aru’ Reynaldi yang beken sebagai musisi, producer dan juga arranger,

”Terjun ke dunia musik janganlah setengah-hati. Harus total, dan pantang menyerah. Kepribadian pun harus kuat, dan tahan banting tentunya,” kata Rieka Roeslan yang tampil sore itu dengan dandanan khas semacam surban putih di kepalanya.

“Ini trade mark saya,” begitu Ia menyebutnya sebagai motivasi bagi puluhan pengunjung yang didominasi para kawula muda.

Menurut nara sumber lainnya, Ari ‘Aru’ Reynaldi, musisi jangan takut untuk berkarya. Apa pun bentuk dan warnanya, sejauh intens dan punya nilai lebih, pastilah karya itu bisa diterima khalayak. “Soal jatuh bangun dalam industri musik, anggaplah itu sebagai cobaan. Intinya, jangan mandek untuk berkarya apa pun bentuknya," kata Ari menjelaskan.

Sementara, salah seorang pengunjung asal Kiara Condong, Bandung, Remi (23) mengatakan, kehadiranya di ajang akbar ini karena ingin tahu pengalaman dari para senior yang sudah lama manggung di kancah nasional.

“Siapa tahu kami-kami ini bisa seperti mereka,” ucap Remi (23) yang mengaku sejak usia SMP sudah menggeluti dunia musik bersama rekan-rekannya.

Sasaran Pasar

Musisi yang hadir di Butterfield Kitchen, selain para deklarator Bandung Pasti Asyiik di Pendopo kota Bandung (18/4/2-16), sore itu ada Erwin Gutawa, Suar (Pure Saturday), Ari Firman, Djae, Zaki 4 Peniti, Adjirao, Luthfi, Kang Nay, Harry Pochang, Imelda Rosalin, Erlan Effendy, dan banyak lainnya.

Penting disimak, Erwin Gutawa yang sengaja hadir dari jeda kesibukannya di Jakarta, berbesar hati dengan penyelenggaraan ini. Ia berharap, Bandung sebagai gudang musisi dan seniman di Tanah Air, bisa memicu penyelenggaraan sejenis untuk kota-kota lainnya.

“Ajang ini tak sekedar jadi wahana silaturahmi belaka, jadilah sarana belajar bersama, dan apresiasi yang bermutu. Percaya rekan-rekan di Bandung, bisa mewujudkannya,” terangnya.

Ditengah perbincangan yang cukup seru tentang suksesi dan kegagalan musisi, Erwin Gutawa melontarkan keprihatinan mendalam. Bandung dalam kancah musik nasional relatif merajai. Namun dimata bangsa lain, secara nasional oleh bangsa lain masih dianggap sebagai pasar.

“Ada 250 juta populasi, semoga kita sadari hal ini. Lainnya, geliat musik nasional jangan disadari sebagai hiburan belaka. Jadikanlah sebagai lokomotif ekonomi dan industri pula,” pungkasnya dengan roman serius. (Harri Safiari – Shahadat Akbar).


Fishing