• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata

Sab14122019

Last updateKam, 12 Des 2019 11pm

BJB

Aneka

Ciung Wanara Dalam Konteks Bernegara

Awang Dadang Hermawan

Oleh : Awang Dadang Hermawan - Tim Eksekutif YPJB - YDBKS Dalam Kepemimpinan DR (HC) H. Mashud Wisnu Saputra. (1991 - 1996)

Kuningan Terkini- Ciung Wanara adalah sebuah legenda yang hidup di kalangan orang Sunda. Cerita rakyat ini adalah legenda tentang Kerajaan Sunda Galuh, asal muasal nama Sungai Pamali serta menggambarkan sejarah rentang hubungan budaya antara orang Sunda dan Jawa yang tinggal di bagian barat provinsi Jawa Tengah

Cerita ini berasal dari tradisi cerita lisan Sunda yang disebut Pantun Sunda, yang kemudian dituliskan ke dalam buku yang ditulis oleh beberapa penulis Sunda dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia.

Turunnya Sang Raja

Dahulu berdirilah sebuah Kerajaan besar di Pulau Jawa yang disebut Kerajaan Galuh. Ibukotanya terletak di Galuh Ciamis. Dipercaya bahwa pada saat itu wilayah Kerajaan Galuh membentang dari ujung kulon, Barat Jawa, sampai ke ujung Galuh (Ujung Galuh), yang saat ini adalah muara dari Sungai Brantas di dekat Surabaya sekarang. Kerajaan ini diperintah oleh Raja Prabu Permana Di Kusumah. 

Setelah memerintah dalam waktu yang lama, Raja memutuskan untuk menjadi seorang pertapa dan karena itu ia memanggil menteri Aria Kebonan ke istana. Selain itu, Aria Kebonan juga datang kepada raja untuk membawa laporan tentang kerajaan.

Sementara ia menunggu di depan pendapa, ia melihat pelayan sibuk mondar-mandir, mengatur segalanya untuk raja. Menteri itu berpikir betapa senangnya akan menjadi raja. Setiap perintah dipatuhi, setiap keinginan terpenuhi. Karena itu ia pun ingin menjadi raja.

Saat Aria Kebonan sedang melamun, raja memanggilnya.

Aria Kebonan, apakah benar bahwa engkau ingin menjadi raja? Raja tahu itu karena ia diberkahi dengan kekuatan supranatural.

“Tidak, Yang Mulia, aku tidak akan bisa".

"Jangan berbohong, Aria Kebonan, aku tahu itu."

"Maaf, Yang Mulia, Saya baru saja memikirkannya". "Yah, Aku akan membuat engkau menjadi raja selama aku pergi untuk bermeditasi, engkau akan menjadi raja dan memerintah dengan benar. Engkau tidak akan memperlakukan (tidur dengan) kedua istriku, Dewi Pangrenyep dan Dewi Naganingrum sebagai istrimu”.

"Baiklah, Yang Mulia”

"Aku akan mengubah penampilanmu menjadi seorang pria tampan. Namamu akan menjadi Prabu Barma Wijaya. Beritahulah pada orang-orang bahwa raja telah menjadi muda dan aku sendiri akan pergi ke suatu tempat rahasia. Dengan demikian engkau akan menjadi raja!

Pada saat penampilan Aria Kebonan menyerupai Prabu Permana Di Kusumah itu, tetapi tampak sepuluh tahun lebih muda, orang2 percaya pengumuman bahwa ia adalah Raja Prabu Permana Di Kusumah yang telah menjadi sepuluh tahun lebih muda dan mengubah namanya menjadi Prabu Barma Wijaya. Hanya satu orang tidak percaya ceritanya. Ia adalah Uwa Batara Lengser yang mengetahui perjanjian antara raja dan menteri tersebut. 

Prabu Barma Wijaya menjadi bangga dan mempermalukan Uwa Batara lengser yang tidak dapat melakukan apa-apa. Dia juga memperlakukan kedua ratu dengan kasar. Keduanya menghindarinya, kecuali di depan umum ketika mereka berperilaku seolah-olah mereka istri Prabu Barma Wijaya. Bersambung….

 

Add comment


Security code
Refresh