• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata

Kam12122019

Last updateRab, 11 Des 2019 10pm

BJB

Aneka

Aktifkan Rujukan Balik Nifas Untuk Penurunan Angka Kematian Ibu

Ns. Embun Kurniaty, Skep

Penulis : Ns. Embun Kurniaty, Skep (STIK Sint Carolus )

Kuningan Terkini - Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Hal ini juga menjadi perhatian  masyarakat Internasional dengan merumuskan Rumusan SDGs yang terdiri atas 17 tujuan dan 169 target.

Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) masuk dalam tujuan ketiga yakni “Ensure healthy lives and promote well-being for all at all ages”, dan pada Target pertama yaitu pada tahun 2030 penurunan AKI secara global adalah 70 kematian per 100,000 kelahiran hidup. 

Salah satu faktor kematian ibu adalah perdarahan masa nifas yang bisa disebabkan karena kurangnya pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan dan program pemerintah yang tidak berjalan, masa nifas adalah masa setelah placenta lahir sampai dengan 6 minggu post partum dan terdiri dari tiga tahapan yaitu  puerperium dini, intermedial dan remote puerperium. 

Menurut Permenkes No. 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi serta Pelayanan Kesehatan Seksual, dimana dalam peraturan tersebut paling sedikit untuk melakukan kunjungan pada masa nifas sebanyak 4 kali dengan tujuan untuk : 

1.                 Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.

2.      Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan- kemungkinan adanya gangguan   kesehatanibu nifas dan bayinya. 

3.               Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas.

4.           Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya. 

Permenkes RI Nomor 71 Tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan Pada Jaminan Kesehatan Nasional dimana pada pasal 2 ( 1 ) Penyelenggara pelayanan kesehatan meliputi semua Fasilitas Kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan berupa Fasilitas Kesehatan tingkat pertama dan Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan.

Hal ini dikaitkan dengan penanganan Angka Kematian Ibu yang memiliki beberapa konsep, diantaranya pendekatan Continuum of Care Pathways, yang merupakan program pencegahan lewat tata kelola yang baik dari hulu ke hilir dan dikembalikan ke hulu , dimana Puskesmas merupakan layanan kesehatan yang menyediakan layanan PONED dengan merujuk ibu yang akan menjalani persalinan dengan penyulit untuk mendapatkan layanan PONEK 24 jam. 

Adapun pelayanan umum untuk Continuum of Care Pathways  yang sudah berlaku antara lain : 

1.                Petugas di sarana pelayanan kesehatan menerima ibu hamil yang akan bersalin.

2.       Apabila ternyata ada penyulit pada persalinan, maka ibu bersalin dikelompokkan  menjadiKelompok B, bidan atau dokter penolong pertama harus memutuskan secara cepat dan tepat untuk melakukan rujukan.

3.          Pasien atau ibu bersalin yang telah didiagnosis memiliki komplikasi pada persalinan  segera dipersiapkan untuk dirujuk ke rumah sakit rujukan, dan lain lain. 

Penulis menyoroti salah satu Continuum of Care Pathways yaitu setelah dilakukan perawatan, maka pasien atau ibu bersalin kembali ke puskesmas dan hasil rujukan dilaporkan kembali ke hotline Dinkes Kabupaten atau Kota.

Akan tetapi pelaksanaan terkait dengan rujukan balik untuk ibu pasca persalinan dengan penyulit tidak berjalan dengan maksimal, hal ini dikarenakan para ibu kembali melakukan kontrol pada masa nifas ke RS dan tidak kembali ke puskesmas sebagai penyedia layanan primer, tentunya hal ini akan menjadi rancu  dikarenakan pelaporan data  rujukan tidak terlapor secara optimal ke Dinas Kabupaten atau Kota. 

Tentunya perlu kerjasama antara fasilitas pertama dengan pelayanan Rumah Sakit agar para ibu pasca persalinan dengan penyulit menjalani masa nifas dengan kembali kontrol ke puskesmas terdekat. Informasi yang kurang maksimal terhadap layanan puskesmas dan layanan Rumah Sakit, agar rujukan balik dilakukan, sehingga hal ini dapat dijadikan salah satu faktor yang mendukung para ibu yang menjalani masa nifas tidak melakukan kontrol secara maksimal. 

Peran serta puskesmas tentunya perlu ditingkatkan kembali untuk mempromosikan layanan sebagai penyedia layanan kesehatan pertama ke layanan kesehatan lanjutan selain meningkatkan fasilitas pendukung tentunya meningkatkan fasilitas SDM beserta kompetensinya, atau dengan membuat sistem balik menjadi rapih guna meningkatkan Continuum of Care Pathways dapat berjalan dengan baik dan manfaatnya dapat dirasakan oleh para ibu yang menjalani masa nifas. 

Selain peran serta puskesmas, tentunya diperlukan juga peran dari pemerintah daerah yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat untuk menjembatani  cara agar  pada masa nifas dapat dilakukan kontrol ibu secara optimal. Adapun peran serta yang diharapkan adalah membuat rumah singgah bagi para ibu masa nifas memiliki yang memiliki jarak rumah lebih dari 20 km, melibatkan perawat komunitas untuk melakukan pemeriksaan ibu masa nifas serta memberikan edukasi mengenai kondisi kesehatan. (Embun-Vita, STIK Sint Carolus ) 

Add comment


Security code
Refresh