• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata

Sen21102019

Last updateMin, 20 Okt 2019 5pm

Aneka

Milenial Kuningan Kaji Peradaban Leluhur

Kang Dhani

Kuningan Terkini - Komunitas "Bukusam" atau Budak Kuningan Sadar Maca menggelar diskusi santai sekaligus menjadi semangat baru dalam mengkaji sejarah peradaban Kuningan. Diskusi yang dikemas dalam Cerita dan Ngobrol (Cengo) Bareng digelar di TBM Gandok Mahardika, Kertawangunan, Senin malam (23/09/2019).

Acara yang digagas Ilham dan kawan-kawan ini tampil perdana dengan menghadirkan narasumber budayawan dan pengusaha muda Kang Dhani, Nara sumberi memberikan materi dan diskusi seputar peradaban dan budaya Kuningan dari kacamata sejarah. Ikhtisar ini dimulai dari era prasejarah (zaman megalitik) hingga masa kerajaan di tatar sunda.

"Selama 11 tahun saya berkeliling Kuningan, mengunjungi situs-situs bersejarah, selalu ada temuan baru dan muncul lagi. Dari hasil diskusi ini saya kasih PR ke peserta supaya mampu menelusuri sejarah tempat mereka sendiri," terang Dhani.

Peradaban masa lalu dikuningan lanjutnya, seperti temuan dari situs purbakala, arca, batuan anomali, dan struktur bangunan yang menyematkan berbagai teknologi yang terbilang maju. Dirinya meyakini bahwa peradaban leluhur itu tidak primitif.

"Banyak Bukti kalau masa lalu itu tidak primitif, banyak teknologi tersembunyi dari bukti sejarah. Seperti di luar negeri ada situs michupichu, di mesir ada Piramid, dan ternyata di kita ada piramida juga yakni Gunung Padang malah lebih tua dari semuanya," tegasnya.

Dhani berharap, para generasi muda sudah saatnya mengkaji bukti sejarah dan mempelajarinya. “Jangan malah menempatkan tempat bersejarah jadi tempat sakral dan keramat, dalam istilah sunda dikenal 'sungil'. Paradigma seperti ini hafus dihilangkan,” paparnya.

Jjika sebuah tempat berupa situs disebut sungil atau angker sambungnya, niscaya para generasi enggan untuk mendekatinya, sehingga nilai historis akan hilang karena tak ada penelitian. Dalam kesempatan yang sama, Dhani memperkenalkan sebuah aplikasi android "metal detector" yang bisa mengukur kadar anomali batuan. Batu biasa akan berada di kisaran 50 mikro tesla dan batuan yang mengandung anomali akan ada di atas 100 mikro tesla.

“Penggunaanya pun sangat mudah, yakni mendekatkan bagu yang akan di uji ke hp android, maka akan muncul hasil ujinya dilayar,” terangnya.

Acara yang berlangsung hingga pukul 23:00 wib ini ditutup dengan hiburan kesenian dan dihadiri oleh puluhan anggota Bukusam yang didominasi generasi milenial. Kegiatan dihadiri budayawan, Mang Sukun, dan masyarakat umum lainnya. (Bubud Sihabudin)

Add comment


Security code
Refresh