• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Wisata
  • Olahraga
  • Kesehatan

Jum10072020

Last updateKam, 09 Jul 2020 7pm

BJB

Ekonomi

Harga Daging Ayam Terus Meroket

Salah seorang penjual ayam di pasar Kepuh

Kuningan (KaTer) - Kurang dari dua minggu menjelang bulan suci Ramadhan, harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional mulai merangkak naik. Kondisi tersebut membuat para pedagang kebingungan karena harga di pasar satu dengan lainnya ada perbedaan. Salah satunya di Pasar Cilimus. Sejak awal Juni, harga daging ayam di pasar ini mulai melambung hingga tembus Rp 32 ribu per kilogram. Padahal, pada akhir Mei lalu harganya masih di angka Rp 30 ribu saja per kilogram.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, harga daging ayam tersebut dipastikan akan terus naik sampai kisaran Rp 35 ribu pada saat munggahan (sehari menjelang puasa, red). Untuk mengantisapasi perbedaan harga yang diprediksi tidak akan seragam, dalam waktu dekat pengusaha dan pedagang daging ayam di Pasar Cilimus akan menggelar pertemuan agar pedagang tidak merugi.

“Karena kalau antar pedagang tidak satu pikiran, dikhawatirkan akan ada persaingan harga. Sehingga, akan membuat pendagang bersaing tidak sehat,” ungkap salah seorang pedagang sekaligus pengusaha ayam potong Pasar Cilimus Arif kepada KaTer, Senin (16/6/2014).

Menurutnya, dengan adanya kesepakatan diantara para pedagang dan pengusaha, maka tidak akan merugikan pelaku usaha. Diadakannya pertemuan tidak terlepas dari masih adanya pedagang yang menjual harga dibawah kesepakatan yang memicu persoalan di pasar.

“Padahal, harga ayam ketika membeli di kandang terus naik. Kalau harga tidak dinaikan akan membuat pedagang terus merugi,” ujarnya.

Terkait harga daging ayam pada saat munggahan, Arif memberikan gambaran tidak akan jauh dari harga Rp 35 ribu per kilogram. Harga ini harga minimal. Karena, para pedagang pun ingin merasakan untung dari datangnya bulan puasa.

“Munggahan merupakan masa untuk mencari untung bagi pedagang seperti kami. Ini kan momen satu tahun sekali,” katanya.

Dikatakan, untuk harga jual yang naik menjadi Rp 32 ribu sudah terjadi sejak dua hari lalu. Dia menyebutkan, di Kabupaten Kuningan harga masih terbilang terkendali dibandingkan daerah lain. Sementara, para pemilik rumah makan dengan harga daging yang kian mahal membuat mereka bingung. Mereka mengaku serba salah. Karena, ketika harga mau dinaikan, mereka mengaku khawatir pembeli protes. Begitu pun sebaliknya, ketika tidak dinaikan tentu akan rugi.

“Harga terus naik. Hal ini tentu membuat kami pusing menentukan harga. Tidak semua pembeli mengerti bahwa harga mengalami kenaikan. Sampai sekarang dari langganan yang sering mengirim daging ayam, harga jual masih Rp 30 ribu per kilogram. Biasanya harga jual mencapai 32 ribu ke konsumen,” keluh salah seorang pemilik rumah makan di Cirendang Eron.(AND)

Add comment


Security code
Refresh