Kuningan Terkini, Bandung - Setiap Sabtu malam (2 minggu sekali), dikawasan jalan Asia Afrika Bandung, tepatnya di area Jl. Braga Pendek di depan Kantor Pusat Bank bjb kerap digunakan Car Free Night (CFN). Namun, pada CFN kali ini ada yang berbeda, selain bertepatan dengan HUT AMS, juga ada jajanan aromasin milik Agus mewarnai keramaian HUT AMS.
Aromanis yang kata orang Jakarta dinamai gulali. Jajanan ini dijual berbungkus-bungkus raksasa seperti gada. Harganya pun enak dikantong, hanya 10 ribu rupiah. “Cuma sepuluh ribu rupiah Kang, mau coba?,”,demikian kata Agus (35), penjajanya yang sudah 6 tahun berkiprah dibidang per-aromanisan.
Kehadiran Agus yang berseragam busana T shirt ormas AMS (Angkatan Muda Siliwangi), selain sedang bertugas pengamanan, juga ikut merayakan ulang tahun organisasinya yang ke -49 tahun. “Sambil merayakan AMS, beginilah saya jualan. Biasa siang hari, mangkal di Cikapundung Timur (sekarang Jl. Sukarno – red.).
Lumayanlah jualan ini, semalam bisa 100 bungkus,” begitu ujarnya saat dagangannya dijajakan dekat panggung hiburan perayaan Ultah ormas AMS. Seperti diketahui, setiap dua minggu sekali, di kawasan Jl. Asia Afrika Bandung, kerap digelar CFN (Car Free Night).
“Semua orang, bisa selfie atau apa pun disini. Bebas kendaraan. Pokoknya, Bandung tambah cihuy-lah,” seru Titin (22), mahasiswa UPI jurusan Kepariwisataan asal Kuningan.
Kembali ke Agus Aromanis, menurutnya, semalam diperkirakan 100 bungkus akan terjual. Bahannya sekitar 3 kg gula dengan pewarna khusus. ”Tidak pakai bahan pewarna tekstil atau industry ini mah. Ini pewarna khusus untuk makanan.” seru Agus sambil melayani pelanggannya mulai dari bocah-cilik hingga orang dewasa.
Pengalaman paling unik ungkap Agus, biasanya para mahasiswa suka memutar aromanis sendiri. Hasinya, tahu sendiri pasti putat-petot atawa menyon alias blepotan.
“Tapi mereka senang malah suka dimasukkan ke facebook segala,” urai Agus tatkala ditanya pembeli unik macam apa yang pernah dialaminnya selama ini?
Yang khusus untuk peralatan Agus Aromanis, kini dilengkapi genset berdaya listrik 50 watt berbahan bensin.“Dulu yang tradisional diputar pakai kaki, seperti sepeda. Yang seperti ini sudah langka,” kata Agus menjelaskan trasnsformasi pembuatan aromanisnya.
Apa pun profesinya, selama dijalani dengan senang hati, pastilah maslahat hasilnya. Taruh kata Agus Aromanis ini, merasa hidupnya cukup bahagia bersama keluarganya.
“Yang penting berjualan. Bisa menyenangkan orang banyak. Terkadang ada anak kecil yang menawar harga. Tanpa pikir panjang selalu saya berikan. Ingatlah, saya juga punya anak kecil, satu-satunya usia tiga tahun di rumah,” urai Agus tentang profesnya yang juga bermaslahat. (Harri Safiari/ Shahadat Akbar).