Kuningan Terkini - Puluhan petani yang tergabung dalam kelompok tani Pandita Makmur Desa Benda Luragung Kuningan, memberikan terobosan baru dalam pemanfaatan kotoran hewan. Terobosan petani muda itu diterapkan dalam pengolahan kotoran hewan yang diproduksi menjadi pupuk organik bagi kebutuhan para petani khususnya untuk lahan pertanian.
Pengurus kelompok tani, M Muhaemin, Kamis (17/12/2015), mengaku sampai saat ini jumlah anggota ada sebanyak 25 orang. Walaupun usia para anggota masih terbilang cukup muda, mereka sangat menggeluti profesi sebagai petani, salah satunya dengan membuat pupuk organik dari kotoran hewan.
“Awalnya kami berpikir bagaimana caranya untuk menekan biaya produksi pertanian agar tidak terus merugi. Akhirnya, kita mencoba untuk memproduksi pupuk organik hasil dari pengolahan kotoran hewan seperti sapi dan domba,” ujarnya.
Menurutnya, pengolahan pupuk organik itu selain untuk menekan biaya produksi juga salah satu langkah untuk memanfaatkan kotoran hewan seperti sapi dan domba. Sebab, Desa Benda merupakan daerah yang mempunyai peternak hewan yang cukup banyak, sehingga bahan untuk pembuatan pupuk organik juga melimpah.
“Kita mencoba untuk memanfaatkan kotoran-kotoran hewan ternak agar bisa membantu anggota kelompok tani sekaligus bisa bernilai ekonomis. Makanya, kita produksi pupuk organik untuk kebutuhan anggota, diluar anggota juga bisa dengan cara memesan terlebih dahulu,” jelasnya.
Dia menyebutkan, dalam sekali produksi pupuk organik bisa menghasilkan hingga 3 Ton, tergantung dari pemesanan para petani. Setiap 1 Ton produksi pupuk organik mampu dipergunakan di lahan pertanian seluas 0,28 Hektar.
“Dengan penggunaan pupuk organik ini juga bisa memberikan kesuburan pada lahan tanah pertanian petani. Kan ini prosesnya alami tanpa ada bahan-bahan kimia, jadi aman digunakan,” kata Cak Imin sapaan akrabnya.
Cak Imin yang tak lain mantan aktivis PMII itu menuturkan, adanya pembentukan kelompok tani yang berdiri sejak Tahun 2014 lalu, memberikan dampak positif bagi para generasi muda. Mereka yang awalnya kurang produktif, pada akhirnya bisa diberdayakan khususnya di bidang pertanian.
“Saya juga ingin pihak pemerintah khususnya dinas pertanian bisa bekerjasama dengan petani dalam hal pendistribusian. Sebab terkadang kami mengalami kesulitan ketika ingin memasarkan hasil produksi pupuk organik,” pungkasnya. (AND)