• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata

Min08122019

Last updateMin, 08 Des 2019 4pm

BJB

Kesehatan

Pengidap HIV Di Kuningan Timur Meningkat?

Sri Laelasari

Kuningan Terkini - Mengejutkan, zona kritis penularan Virus HIV/Aids berhasil diungkap Sri Laelasari salah satu anggota DPRD Kuningan dari Fraksi Gerindra. Dalam penelitiannya selama 2 bulan terakhir, diprediksi pengidap virus ini telah meningkat tajam di Kuningan Timur.

"Selama ini informasi pelayanan terhadap pengidap HIV telah berjalan baik sesuai perda. Namun, yang disayangkan fenomena ini seperti gunung es, tidak nampak dipermukaan, tetapi masive penularannya," ujar Sri di gedung DPRD, Selasa (08/10/2019).

Dari data yang berhasil dihimpun kata Sri, kini penularan tak terbatas pada pengguna narkotika, dan LBGT. Virus tersebut kini mulai merambah kalangan ibu rumah tangga, dan ada kemungkinan ditularkan pasangannya yang kerap 'jajan' diluar. "Saya harap, pihak terkait sering-seringlah melakukan test VCT. Karena, saat ini banyak penderita HIV yang tidak terdeteksi. Mereka tidak mengetahui dirinya terpapar virus. Padahal jika terdeteksi dini, mereka (pengidap) akan aktif dan semangat dalam pengobatan sekaligus peduli pencegahan," jelasnya.

Sri mengingatkan, semua pemangku kepentingan harus segera berperan, baik dari tingkatan bawah sampai atas. Sri pun berencana mengaktifkan kembali "Rampak Polah" sebuah wadah yang pernah eksis pada 2014 silam. Komunitas ini berisi kumpulan relawan. Wadah ini bergerak dalam bidang sosial dan kepedulian terhadap HIV/AIDS.

“Saya akan menghimpun data riil jumlah pengidap HIV yang harus diperhatikan dan dilayani selama proses pengobatan. Mayoritas mereka tumbuh dari kalangan menengah ke bawah,” terangnya.

Disebutkannya, Klinik Edelwiess Kuningan saat ini telah melayani lebih dari seratus pengidap HIV dan tidak seluruhnya dijamin BPJS Kesehatan, hal ini sangat memberatkan ODHA dan pemerintah wajib membantu. Ia merasa prihatin, karena data yang ada saat ini sangat tidak representatif.

“Pemerintah harus memfasilitasi ODHA dari segi pengobatan dan pelayanan supaya mereka bisa hidup normal, kemudian edukasi mencegah penularan. Kembalikan semangat hidup mereka dengan berbagai pelatihan untuk menyambung kehidupan sehari-hari," pungkasnya.(Bubud Sihabudin)

Add comment


Security code
Refresh