Kuningan Terkini - Sedikitnya 110 siswa dari pelajar SMK Auto Matsuda Maleber Kuningan melakukan studi lapangan ke Gedung DPRD Kabupaten Kuningan, Rabu (21/10/2015).
Dalam kunjungannya, ratusan siswa diterima langsung Ketua DPRD Kuningan Rana Suparman didampingi Kabag Perundang-undangan Risalah dan Persidangan DPRD Dedi Kusnadi serta Kasubagnya Deden Yuliadin.
Guru pembimbing mata pelajaran PKn SMK Auto Matsuda, Lesi Widia Puspita didampingi guru lainnya Vera Deniawati dan Tuti Azizah mengaku, kegiatan studi lapangan ini diikuti oleh siswa Kelas XII. Nantinya, usai dari kegiatan ini para siswa akan diberikan tugas pembuatan masalah hasil dari observasi lapangan.
“Jadi, kunjungan ini dalam rangka observasi dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Hal ini diperlukan agar siswa lebih memahami dan mengerti perkembangan dan pengelolaan kekuasaan pusat dan daerah dalam mewujudkan NKRI,” ujarnya.
Dengan kegiatan di luar kelas kata Lesi, para siswa diharapkan bisa mengetahui langsung situasi dan kondisi DPRD Kuningan dalam melaksanakan tugas kedewanan. “Ini juga sebenarnya gimana gurunya pak, apabila dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu seperti kunjungan industri sesuai dengan pelajarannya, ada juga teknik industri, multi media dan lainnya,” ucapnya.
Ketua DPRD Kuningan Rana Suparman menjelaskan, kunjungan yang dilakukan para siswa SMK Automatsuda sebagai bentuk studi lapangan untuk melihat secara langsung tupoksi para anggota dewan. Observasi itu juga sebagai salah satu kegiatan pembelajaran terkait dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
“Disitu juga ditanyakan tentang struktur kelembagaan DPRD seperti Ketua, Wakil Ketua, Alat Kelengkapan Dewan dan Fraksi beserta tugas-tugasnya. Bahkan, muncul juga beberapa pertanyaan soal banyaknya berita tentang masalah korupsi, dengan terlibatnya anggota legislatif baik itu DPR RI, DPRD Provinsi maupun DPRD di daerah,” sebutnya.
Dengan nalar kritis para pelajar itu kata Rana, dirinya melihat bahwa potensi dan kecerdasan di tingkat pelajar juga sudah mulai berkembang. Dibuktikan dengan bisa menyimpulkan beberapa kasuistik yang terjadi di Indonesia. Bahkan, isu soal kemaksiatan di gedung dewan juga sempat dipertanyakan oleh sejumlah siswa.
“Ya kita jelaskan, apa yang sesuai dengan yang pernah kita jelaskan ke media sebelumnya. Nah ini bukti bahwa di tingkatan pelajar pun sudah mulai ada peningkatan kepedulian terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Seperti tadi juga dipertanyakan tentang APBD TA 2015, dibelanjakan kemana saja, lalu dampak dari belanja ini seperti apa,” katanya.
Pihaknya mengaku, setiap pertanyaan yang dilontarkan para siswa dijawab dan dijelaskan sesuai dengan kondisi yang tertuang dalam buku APBD. Hal itu disampaikan sebagai bentuk pelajaran dan tanggungjawab moral DPRD sebagai wujud keterbukaan informasi kebijakan daerah. (AND)