Ironi Mahasiswa Masa Kini
Kuningan Terkini - Dunia mahasiswa adalah dunia pembelajaran, didalamnya memiliki wadah bernama kampus yang merupakan laboratorium kehidupan bernegara. Menjadi mahasiswa merupakan proses dimana manusia berada dalam tahap masa paling produktif untuk menentukan arahj alan hidup, sehingga tak jarang para mahasiswa memiliki idealisme yang dimanifestasikan menjadi agent of changes.
Namun menjadi sebuah ironi, akhir-akhir ini peran dan keberadaan mahasiswa di masyarakat kurang begitu terdengar. Mahasiswa masa kini masih terjebak dalam situasi yang sifatnya seremonial belum menyentuh pada hal-hal lebih substansial (Masyarakat). Sebagai kaum terpelajar yang memiliki gelar agent of Change, social controll, dan Moral Force tentu harus memiliki power dalam mengemban amanah tersebut.
Power tersebut secara garis besar ada dua yaitu: Intelectual-academic power dan social critic and response power. Kekuatan pertama adalah kekuatan internal mahasiswa terkait dengan day aintelegensi, emosi dan spritual. Mahasisw aharus terus mengadakan aktualisasi potensi diri sebagai upaya pengembangan diri, integritas, intelektualitas-akademik sesuai dengan profesionalisme jurusan masing-masing.
Kekutan kedua adalah kekuatan kepekaan sosial. Kekuatan ini merupakan aktualisasi dari kekuatan yang pertama. Kekuatan kedua ini adalah media untuk mengasah secara kontinyu kekuatan kritis-responsif. Disinilah peran sosial mahasiswa di uji. Mahasiswa dituntut mampu untuk menganalisa, merespon dan sekaligus mencarikan alternative pemecahan masalah yang ada di lingkungan sekitarnya.
Inilah kiranya salah satu realisasi kewajiban misi manusia dimuka bumi sebagai pemimpin (Kholifah fi Al-Ardh)). Mampukah kita mengemban amanah suci Tuhan tersebut ? Saya teringat pada seorang pengikut marx, Lenin, seorangs osialis-marxis dari Rusia. Ia membuat katagorisasi general tentang pembagian umat manusia di muka bumi ini menjadi dua bagian. Pertama, apa yang iasebut dengan The late unconscious majority mass (massa ideologis, massa tidak sadar yang dominan), kedua, The active conscious minority group (massa rasional, massa sadar) atau The Creative Minority, meminjam istilah Kuntowijoyo, yang menempati posisi minoritas.
Dimanakah posisi kita saat ini kawan? Sadar atau tidakkah kita terhadap keadaan kita sebagai mahasiswa? We our self know the answer…!!! Yang jelas mahasiswa harus menjadi kekuatan sadar yang memiliki daya analitis kritis (critical consiousness, meminjam istilah Paulo freire) sehingga mahasiswa bukan hanya mampu untuk menafsirkan dunia, akan tetapi juga mampu untuk merubahnya kearah yang lebih humanis dan bermartabat.
Oleh : Abdul Mukti, Penulis adalah Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Kuningan