Bandung (KaTer) - Ada yang khas dari peringatan hari bumi, 22 April 2014 kali ini di kota Bandung. Selain berbagai komunitas di hutan kota Babakan Siliwangi menggelar acara bertema kebumian, ada pula kolaborasi khusus antara komunitas Jagaseke yang gigih me-revitalisasi 400 mata air di kotanya, dengan puluhan anggota Jaringan Komunikasi Hari Bumi (JKHB) Walhi Jabar.
Aksinya, mereka berjalan kaki dari halaman Gedung Sate hingga ke Taman Cikapayang. Yang beda pada aksi kali ini, ditengah jalan kita akan membasuh muka di seke ‘Pullman’. “Ini tandanya, kita sayang air. Sebaliknya proyek pembangunan Hotel Pullman tak sayang air. Tepat di kocoran mata air disana, kita lakukan semacam ritual ,” seru Wahyu Widianto, Korlap JKBH Walhi Jabar melalui mesin pelantang warna merah.
Menariknya, saat aksi jalan kaki berlangsung, yang mengususng aneka banner dan poster yang mengecam, maupun yang menggelitik pihak perusak lingkungan, siapa pun yang membacanya, akan tertegun dan merenungkan kebenaran isinya. “Demonya unik, selain mahasiswa ada juga ibu-ibu. Kayaknya, mereka ini militan ya?”, tanya Deviantri (22), mahasiswa ITB yang amat tertarik dengan pesan yang dibawa para peserta aksi.
Puncaknya, setiba di area buangan mata air yang kini populer disebut seke Pullman, beberapa peserta aksi, tanpa dikomandoi langsung membasuh muka.”Aduh, sayang ya, air begitu jernih dan segar dibuang begitu saja,” terlontar spontan dari mulut Ibu Euis dan Mamah, anggota komunitas Jagaseke.
Tampak raut muka geram dan marah pun memencar dari para peserta aksi lainnya. Sebagaimana pemberitaan selama ini, sejak proyek Hotel Pullman dan BICC (Bandung International Convention Center) yang diresmikan pembangunannya Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, pada Februari 2013, hingga kini masih menuai protes dari pecinta lingkungan.
”Proyek ini tak punya AMDAL dan IMB, apalagi mengurug sekitar empat mata air disini. Kocoran air ini muncul, karena mereka tak mampu mereka menahannya. Hukum alam terjadi, air akan mencari jalannya sendiri”, kata Bastian dan Dikdik, keduanya aktivis dari LSM CADAS (Ciri Aspirasi Dari Abdi Sanagara) yang mengaping aksi ini.
Menurut Dadan Ramdan, Direktur Eksekutif Walhi Jabar, dan Taufan Suranto, aktivis lingkungan DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda), yang juga turut dalam aksi ini menyatakan sepakat spot kocoran air di seke Pullman harus dijadikan titik tumpu demo lingkungan bila dilakukan di seputar Gedung Sate.
“Tujuannya, agar proyek yang berbahaya dan melanggar sejumlah peraturan dan perundang-undangan lingkungan hidup, harus total berhenti atau dibongkar, segera!”, tambah Dadan yang diamini puluhan aktivis lainnya. “Setuju, proyek itu dihentikan”, serempak puluhan aksi meneriakkan semacam kata-kata azimat sambil mengepalkan tangan. (Harri Safiari).