Kuningan Terkini - Ramadhan bagi setiap orang berbeda rasanya, berbeda maknanya. Bila ramadhan bagi kita begitu menyenangkan. Mungkin tidak semenyenangkan yang dirasakan oleh orang lain.Bila ibadah ramadhan kita selama 10 hari pertama begitu tenang. Kita bisa membuat target-target ibadah yang tinggi, Mengkhatamkan Al-qur’an, dan melakukan kebajikan, serta mampu ikut kajian di mana-mana. Lalu kita merasa begitu sempurnanya ramadhan kita kali ini dengan segenap pencapaian tersebut.
Lihatlah orang-orang disekitar kita, di jalanan sana ada petugas-petugas yang harus menjaga pintu kereta, ada yang harus mengawas lalu lintas, ada yang harus bahkan mencari nafkah, menjadi karyawan di toko-toko, Ada Pula yang sedang menuntut ilmu di pesantren, di kota-kota besar dan lain-lain. Ada orang-orang yang hendak tarawih sajabegitu keteteran. Mereka harus selalu awas dengan tanggungjawab terhadap pekerjaannya, mengorbankan waktunya untuk berkumpul dengan keluarga karena sebuah pekerjaan.
Sementara kita begitu bahagia, setiap sore buka bersama, pergi tarawih dengan leluasa, mau sahur pun sudah tersedia, kita tinggal duduk bersama.Sejatinya apakah makna ramadhan ini diukur dengan ibadah-ibadah ritual saja? Atau ibadah yang lebih dari itu? Bila sekedar ibadah ritual, mengapa harus menunggu ramadhan. Mengapa ketika ramadhan tiba seolah-olah banyak hal menjadi terlihat alim.
Dari toko-toko sampai tayangan televisi, sampai ke hal-hal yang kita jalani sehari-hari berubah drastis.Apakah ramadhan hanya sekedar meningkatkan ibadah ritual tapi tidak secara spiritual lengkap dengan penerapannya. Islam menjadi ambigu ketika apa yang diajarkan tidak diamalkan oleh pengikutnya begitu juga dengan Ramadhanmenjadi ambigu bila hanya dibulan ramadhan ini intensitas ibadah kita naik berkali-kali lipat tapi esok selepas ramadhan, semuanya kembali ke normal seperti biasa.
Allah SWT Berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 18 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ Mari kita renungkan sejenak, melihat segala sesuatu dari luar diri kita. Mari kita berkaca, apakah ramadhan hanya akan kita isi dengan berlomba-lomba, berkali-kali mengkhatamkan Quran ? Atau yang lebih esensial dari itu, berlomba sebanyak-banyaknya mengamalkan isi Quran kedalam kehidupan sehari-hari.
Akhlak terbaik dari manusia adalah miliki Nabi Muhammad, sebab akhlak beliau adalah Al Quran. Mampukah kita menjadikan Al Quran sebagai akhlak kita? Paling tidak berusaha setiap hari, selalu berusaha menambah amalan kita? Jangan sampai kita banyak membaca Quran tapi dengan sengaja melanggar apa yang kita baca. Merasa biasa-biasa saja. Ibadah vertikal haruslah selaras dengan ibadah horisontal. Mari kita rasakan serta maksimalkan ramadhan kita kali ini.
Bila cara kita dalam menjalani ramadhan masih sama saja dengan tahun lalu, berarti kita belum kemana-mana.Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa:“Siapa yang hari ini sama seperti hari kemarin maka dia orang merugi. Siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia orang yang beruntung. Maka siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia orang yang terlaknat”. Semoga kita tidak termasuk kedalam golongan orang-orang merugi yang memaknai Ramdhan hanya sebatas Ibadah Ritual saja.
Penulis : Nama Abdul Mukti, Penulis adalah seorang Mahasiswa di STKIP Muhammadiyah Kuningan.