Jakarta (KaTer) - Pasangan Capres-Cawapres, telah menyelesaikan debat terakhir tentang pangan, energi dan lingkungan. Dalam debat, terlihat Jokowi-JK lebih menguasai masalah dan unggul dalam ketiga subtema. Mereka berdua juga terlihat lebih menguasai detail dan bagaimana implementasi visi-misi yang mereka sampaikan.
Dalam pembukaan debat, Jusuf Kalla menyatakan bahwa masalah pangan harus diatasi dengan sinergi mulai bibit, pupuk dan irigasi yang baik. Dalam isu energi, pembenahan sistemik diperlukan. Konversi energi seperti minyak ke gas, juga penggalakan transportasi umum dan produksi energi baru dan terbarukan. Dalam jangka pendek, hutan juga harus diperbaiki minimal dua juta hektar per tahun, sementara untuk pangan akan ada pencetakan sawah satu juta hektar per tahun.
"Jika anda petani, anda pasti lebih memahami pemaparan Jokowi-JK. Jokowi dengan tegas juga memuliakan posisi petani dengan ungkapan jangan anggap remeh petani," demikian analisis umum Henry Saragih, Presidium Seknas Tani Jokowi, di Jakarta, Minggu (6/7) malam.
Contoh yang sederhana adalah pemaparan produksi dan pasar. Pepaya dijadikan contoh konkret: bahwa petani tak bisa hanya berproduksi-harus ada jaminan pasar.
"Potensi pasar kita sangat besar, ada 250 juta jiwa dan ekonomi dinamis di pasar-pasar termasuk yang tradisional. Contoh membangun industri ekstrak jus pepaya sangat konkret: selain menampung hasil petani, membangun nilai tambah, juga membuka lapangan pekerjaan," kata Henry lagi.
Henry juga mengkritik pernyataan Prabowo yang akan menggunakan pupuk spesifik. Menurutnya pupuk ini adalah pupuk kimia yang dalam produksinya akan mengandalkan perusahaan-perusahaan besar. Akibatnya petani kecil jadi mengalami ketergantungan akan pupuk, dan tidak bisa berdaulat pupuk.
"Hal ini berbanding terbalik dengan visi misi Jokowi-JK yang ingin mengembangkan pupuk organik yang sumbernya bisa didapatkan dari alam sekitar, sehingga petani bisa berdaulat pupuk," tegasnya.
Selanjutnya, salah satu yang harus digaris bawahi adalah komitmen Jokowi-JK pada kepemilikan tanah dan air petani. Dalam visi misi Jokowi, dan ditekankan dalam debat, tanah petani harus diperluas dari rata-rata 0,3 hektar per KK saat ini menjadi 2 hektar.
"Namun kita lihat detail lebih lanjut, Jokowi menekankan air. Karena tanpa air dan irigasi, pertanian tidak bisa jalan," ujar Henry.
Jokowi seakan ingin menyatakan pada pemerintahan sekarang agar lebih konkret melaksanakan rencana untuk petani. Saat ini ada rencana food estate, program pembaruan agraria nasional, tapi tak berjalan karena implementasi pemerintah tak konsisten. Nilai plus juga ada pada penyampaian mandat UU Desa. UU ini akan memberikan dana Rp 1,4 milyar melalui badan usaha milik desa-yang baiknya berbentuk koperasi.
Henry Saragih melanjutkan, penggambaran sederhana Jokowi juga sangat masuk akal, soal sapi misalnya. Jika sapi dipusatkan di desa, maka kita punya stok daging, pupuk dari kotorannya, juga bioenergi. Ini adalah solusi konkret pangan, energi dan ramah lingkungan. Satu batu untuk tiga burung. Dalam penyampaian, Jokowi-JK juga lebih bernas. Sementara Prabowo-Hatta terlihat emosi dalam debat sengit kali ini.
"Pertanyaan Kalpataru-Adipura itu pengetahuan umum yang seharusnya luar kepala buat Hatta Rajasa," ujar Henry.
Henry menambahkan, Prabowo juga terjebak dalam retorika-retorika besar, sementara Hatta Rajasa bahasanya sangat teknokrat sehingga sulit dimengerti petani. Petani, seperti kata Jokowi, tidak butuh retorika. Bukan janji-janji besar belaka. Tidak hanya "akan, akan" dan "ingin, ingin"--tapi pemimpin yang mengerti masalah di lapangan, bisa melaksanakannya dengan konkret seperti bukti di Solo dan DKI Jakarta.
"Debat terakhir ini berlangsung sangat menarik, dan Jokowi-JK jelas menang telak. Kerja keras petani hanya tinggal memastikan pilihan pada 9 Juli untuk presiden yang mengerti petani," tambahnya..(beritasatu.com)