Wisata

Angklung Diatonis, Warisan Budaya Kuningan

Salah seorang pengrajin angklung di sanggsr angklung lumbu.

Kuningan Terkini - Siapa sangka, Angklung Diatonis, sebuah alat musik merdu terbuat dari bambu yang sudah mendunia ini, ternyata cikal bakalnya lahir di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Adalah Daeng Sutigna, sang pencipta yang lahir di Garut, Jawa Barat, 13 Mei 1908, saat mengajar mengajar di HIS Kuningan, Jawa Barat (1932-1942) berhasil menciptakan dan mengembangkan Angklung Diatonis.

Awal mula terciptanya Angklung Diatonis ini, ketika ada dua orang pengemis datang kerumahnya di Kuningan, Jawa Barat tahun 1938 dan memainkan angklung pentatonis. Bunyi angklung yang dimaiknan pengemis ini membuat hatinya bergetar, sehingga angklung pentatonis tersebut dibelinya. Berawal dari Angklung Pentatonis inilah, Daeng Sutigna belajar membuat angklung kepada pakar angklung bernama Djaya. Setelah bisa membuat angklung pentatonis, ia berhasil membuat angklung yang bertangga nada diatonis. Ia menganggap angklung diatonis lebih komunikatif untuk diajarkan kepada anak-anak.

Untuk melestarikan warisan budaya khas Sunda ini, Pendi Partawijaya (43) bersama Sanggar Angklung Lumbu di Kecamatan Cigugur, Blok Lumbu, Kuningan, Jawa Barat, hingga kini terus memproduksi Angklung Diatonis meski peminat di Kuningan masih kurang.

Menurut Pandi, awalnya memproduksi angklung ini, ketika ada rekan yang berprofesi kepala sekolah meminta bantuan untuk membetulkan angklung yang rusak disekolahnya. Dengan bantuan keluarganya yang sering membuat angklung di Citangtu, akhirnya sambil belajar, Ia berhasil membetulkan angklung yang rusak tersebut.

“Sebelumnya saya memproduksi gitar elektrik. Sekarang, selain memproduksi angklung, juga memproduksi alat musik tradisional lainnya yang berbahan material sama, seperti suling sunda, calung dan juga arumba,” terangnya kepada Kuningan Terkini, Kamis (21/7/2016).

Untuk pamasarannya sambung Pandi, sudah sampai diluar jawa. Diataranya, Batam, Sulawesi , Kalimantan, Sumatera, Jakarta, Bandung, Cirebon, Indramayu. Sementara untuk peminat angklung di Kuningan sangat minim. “Ironis, padahal angklung diatonis berasal dari Kuningan. Karena itu, untuk melestarikan warisan dan budaya asli Kuningan, meski ada permintaan untuk mengajar sangat jauh, saya menyanggupinya,” ujarnya prihatin.

Sementara, salah seorang pengrajin angklung yang bekerja di sanggar angkulng Lumbu, Mod Ahmad (50), warga Jambar, Nusaherang, Kuningan menjelaskan terkait proses pembuatan angklung, Menurutnya, sebelum menjadi angklung yang berkualitas bagus, bambu hitam atau yang di Kuningan biasa disebut awi hideung harus dipilih yang kering.

“Jika bambu hitamnya masih basah, akan merusak kualitas suara angklung. Angklung akan rubah nada dengan sendirinya,” terangnya.

Seteleh dipilih yang kering kata Mod, bambu dipotong dan dibentuk menjadi angklung sambil mencari nada diatonis yang pas untuk angklungnya. Setelah pemotongan dan pemilihan nada selesai, angklung diikat menggunakan rotan. Sementara untuk angklung buncis, diikat dengan ijuk.

“Angklung yag berkualitas, tergantung dari bahan dan proses pembuatannya. Harganya sekitar Rp.35.000 sampai Rp.40.000, tergantung ukurannya,” pungkasnya.(Gilang)


Fishing