Kuningan Terkini - Tragedi kerusuhan di Tolikara Papua, yang terjadi saat pelaksanaan Sholat Idul Fitri lalu terus mengundang reaksi dari berbagai daerah. Di Kuningan, Ormas Islam Gerakan Anti Maksiat (Gamas), Gerakan pemuda Ka’bah (GPK), Barisan Operasi Maksiat (BOM) dan Laskar Pembela Islam (LPI), mengecam keras aksi pembakaran masjid tersebut.
Juru bicara Nanang Subarnas, mengaku terkejut saat menerima berita adanya aksi bentrok warga di Tolikara Papua yang berujung pada pembakaran mushola, beberapa kios dan rumah warga saat pelaksanaan Sholat Idul Fitri.
“Kami sebagai muslim juga bagian dari warga muslim lainnya, di semua penjuru dunia, termasuk saudara kami di Papua. Ketika ada saudara seiman kami yang terdzholimi, maka wajib bagi kami untuk membela mereka, minimalnya dengan memberi dukungan agar keamanan dan ketenteraman yang selama ini mereka rasakan bisa dinikmati kembali,” ungkap Nanang.
Menurut pihaknya, mengganggu kegiatan ibadah agama yang resmi diakui pemerintah adalah perlakuan yang tidak sesuai dengan Undang-Undang Dasar dan bisa membangkitkan kemarahan bagi ummat yang diganggu.
“Pelaku aksi ini sama saja dengan teroris yang sering digembor-gemborkan pemerintah. Karena sedikit banyak kejadian ini telah mengundang rasa tidak aman bagi warga muslim lainnya,“ ucapnya.
Untuk membuktikan solidaritas sesama muslim, pihaknya menyampaikan pernyataan sikap bersama agar penyelesaian permasalahan tersebut bisa segera diatasi oleh pemerintah.
“Kami mengutuk keras siapapun pelaku yang mengganggu jalannya ibadah ummat Islam di Tolikara Papua. Apalagi sampai terjadi pembakaran terhadap rumah ibadah. Ini jelas telah melanggar prinsip toleransi yang selama ini kami berikan kepada ummat di luar Islam,“ ujarnya.
Menurutnya, pemerintah, melalui koordinasi lintas kementerian dan aparat keamanan wajib mengusut siapa yang bertanggungjawab atas kejadian tersebut, dan memrosesnya secara hukum dengan adil dan tegas.
“Ketika tempat Ibadah di luar Islam yang dirusak, pemerintah begitu tegas dan cepat menangkap yang diduga pelakunya. Kenapa untuk kasus Tolikara ini terkesan begitu lamban?“ tanya Nanang.
Selanjutnya, pihaknya menghimbau kepada ummat Islam di wilayah lain, termasuk di Kuningan, untuk tetap waspada. Jangan sampai terprovokasi oleh ajakan-ajakan pembalasan.
“Kepada ummat Islam lainnya, dimohon waspada, jangan terpancing oleh kejadian dan ajakan dari pihak-pihak lain yang bermain opini untuk mengadu domba. Hati-hati, banyak sentimen agama yang dijadikan komoditas politik untuk mengganggu ketenteraman masyarakat yang selama ini terjalin,“ himbaunya. (DHE)