• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata

Thu27082026

Last updateWIB3_MonAMWIBE_August+0700RAugAMWIB_0AMthWIB1787538147+07:00MonAMWIBE

Aneka

Nyimas Gandasari (Bag2)

Foto Ilustrasi

Nyimas Gandasari (Bag2)

(Asal Mula Nama Kedungarum)

Oleh Abun Burhanudin

Saat sedang bingung-bingungnya, tiba-tiba munculah dua orang lelaki yang tidak dikenal menyeret si Mulus ke hadapan Nyimas gandasari. Nyimas Gandasari kaget, karena melihat si Mulus terluka di kakinya. Tanpa bertanya dulu kepada dua lelaki itu, Nyimas Gandasari langsung marah. Kalian apakan kuda ku itu? Nyimas Gandasari tidak menunggu dulu penjelasan dari kedua lelaki itu, ia langsung menyerang keduanya.

Mendapat serangan yang tiba-tiba dari Nyimas Gandasari, tentunya kedua lelaki itu kaget. Walau begitu mereka tidak mau melakukan perlawanan. Kedua lelaki itu hanya menghindari dan menangkis saja serangan dari Nyimas gandasari. Tahan dulu, Nyai..! Nyai telah salah faham. Kami tidak melukai kuda Nyai. Bahkan kamilah yang menolongnya. Betul, Nyai. Tadi kami menemukan kuda ini terperosok ke dalam jurang. Kami kemudian menolongnya dan membawanya ke sini. Mendengar itu, Nyimas Gandasari sedikit reda marahnya. Tetapi dia

heran, kenapa dua lelaki itu bisa mengetahui kalau kuda itu miliknya. Tapi bagaimana kalian bisa tahu kalau akulah pemilik kuda itu...? Hmmm...Di wilayah Kuningan ini, tak seorang pun yang tidak mengenali siapa diri Nyai,. Ya, sudah, kalau begitu aku ber terima kasih pada kalian, karena kalian telah menyelamatkan kuda piaraanku. Nyimas Gandasari masih tampak ketus, tapi kedua lelaki itu malah tersenyum.

Mereka samasekali tidak tersinggung oleh sikap Nyimas Gandasari. Sama-sama, Nyai.. Tapi kok Nyai tidak menyuruh kami untuk mampir dulu ke rumah Nyai? Aku hanya sendirian di rumah. Kalian bukan muhrim tak pantas bertamu ke rumahku malam-malam begirni. Kalau begitu bolehkah kalau besok kami bertamu ke rumah nyai? Terserah kalian. Nyimas Gandasari kemudian pulang tak mempedulikan lagi kedua lelaki itu. Begitupun dengan Kedua lelaki itu, mereka pun meninggalkan tempat itu.

Besoknya, kedua lelaki itu kembali menemui Nyimas Gandasari di gubuknya. Kini nampak jelas wajah kedua lelaki itu yang ternyata punya wajah yang lumayan tampan. Nyai Gandasari pun terpesona. Kedua lelaki itu kemudian memperkenalkan diri masing-masing. Yang satu bernama Waim Asmadi, yang satunya lagi bernama Nata Kadil. Nyimas Gandasari nampak kaget mendengar nama kedua orang itu, yang memang sudah tidak asing lagi didengarnya.

Jadi kalian bernama Waim Asmadi dan Nata Kadil? Ya betul. Apakah Nyai pernah mendengar nama kami? Iya aku pernah mendengarnya. Tapi aku kira tampang kalian tidak seperti ini. Waim Asmadi dan Nata Kadil adalah dua orang Pendekar yang terkenak sangat sakti. Nama kedua pendekar itu sangat disegani dan ditakuti di tataran Kuningan.

Nyimas Gandasari tidak menyangka kalau kedua orang itu ternyata berwajah tampan, tidak seperti yang ia duga sebelumnya, bermuka seram dan menakutkan. Apa maksud kalian datang ke sini? Kami sudah lama mendengar tentang kecantikan Nyai. Kami berharap salah satu diantara kami, bisa menjadi pilihan Nyai. Nata Kadil langsung blak-blakan mengutarakan niatnya, hal itu membuat Nyimas Gandasari tersipu malu.

Kedua lelaki itu sama-sama tampan. Nyimas Gandasari menyukai keduanya. Ia pun bingung untuk memilih salah satu diantara mereka. Jujur saja, aku pun menyukai kalian berdua. Tapi tak mungkin kalau aku harus memilih kalian semuanya sekaligus. Bersambung...

Add comment


Security code
Refresh


Fishing