Aneka
Ini Solusi Bagi OTD Waduk Jati Gede
- Details
- Published on Monday, 22 February 2016 08:39
- Written by Harri Safiari
- Hits: 38397
Kuningan Terkini, Bandung - Bertempat di Kawasan Eko Wisata dan Budaya Alam Santosa, Pasir Impun Kabupaten Bandung, Gerakan Hejo menerima perwakilan para OTD (Orang Terkana Dampak) Waduk Jatigede Sumedang, (21/2/2016). 6 orang yang mewakili ribuan OTD Waduk Jatigede yang diantar Dik Tanbih, aktivis dari LSM CADAS diberikan solusi untuk memberdayakan aqua culture oleh Ketua Gerakan Hejo, Eka Santosa.
“Mereka mengemukakan segala permasalahan menyangkut kampung halamannya yang tergenang, kami beri solusi. Salah satunya pemberdayaan aqua culture. Anehnya, pemerintah Provinsi Jabar dan Kabupaten Sumedang, justru tak hirau akan nasib para OTD ini”, papar Eka Santosa, Ketua Umum Gerakan Hejo.
Sebagaimana diketahui Gerakan Hejo ini telah dirintis oleh Eka dan sesepuh Jawa Barat Solihin GP sejak 25 November 2015 lalu. “Memberdayakan warga Jabar melalui penghutanan kembali area yang gundul dari sisa hutan Jabar tinggal kurang dari 25%.. Moal ngejo lamun teu hejo,” demikian tujuan Jabar Hejo kata Eka.
Sementara ke 6 orang perwakilan OTD Jati Gede, yaitu Komarudin, asal Cibogo, Iwan Setiawan asal Wado Sumedang, Dedeh Kurniasih, Aden Torsimah asal Cipaku, Kesmawati asal Jemah dan Teten Sutendi asal Padajaya merasa bersyukur ada solusi yang diberikan Gerakan Hejo.
”Masih ada ribuan yang terlunta-lunta seperti kami. Nasib sekolah anak-anak kami, nasib relokasi, dan penggantian pun maih belum tuntas. Kemana kami mengadu? Beruntung ada Gerakan Hejo ini,” tambah Aden yang bertahun-tahun memperjuangkan hak-hak dasar para OTD Waduk Jatigede.
Secara terpisah Ir. Moh. Husen, Pakar Perikanan yang dalam Gerakan Hejo menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Perikanan dan Kelautan, hari itu langsung memberikan petunjuk untuk memberdayakan aqua culture.
“Kami dorong KJA (Keramba Jaring Apung-red) yang sangat ramah lingkungan. Praktiknya, nanti menghindarkan dampak negatif seperti terjadi di Waduk Cirata, Saguling, dan Jatiluhur. Disini harus tidak over load, dan aturannya ketat. Termasuk jenis ikan pun harus yang sesuai dengan eko sistem setempat. Ini yang kita pikirkan,” ujarnya.
Namun untuk pelasanaannya karta Yunus, masih harus menunggu setidaknya 1 tahun untuk menyesuaikan kondisi genangan air dan adanya regulasi yang kondusif. KJA di Jatigede memang tidak bisa dibandingkan dengan KJA yang sudah ada di Cirata atau Waduk Jatiluhur. Di bendungan ini airnya berasal dari Sungai Citarum yang dikenal terkontaminasi berat limbah pabrik. “Dipastikan produk ikan dengan KJA di Jatigede bisa lebih baik dan kompetitif, karena sumber airnya tidak tercemar limbah,” sambung Husen yang sohor sebagai Husen Lauk.
Permasalahnnya selama jeda waktu tunggu itu masyarakat OTD mau apa? Menurut Ahman dari Asosiasi Perikanan Sumedang, masyarakat bisa melakukan kegiatan perikanan dengan memanfaatkan teluk-teluk atau tepian bendungan sistem pemagaran (fence) dengan jaring. “ini solusi ramah lingkungan”.
Selanjutnya Eka Santosa menyarankan agar warga OTD Jatigede segera membentuk kelompok-kelompok untuk mempermudah teknis penyediaan bibit ikan dan peralatan yang diperlukan.
Para perwakilan warga OTD Jatigede ini spontan bungah bin sumringah karena merasa memiliki peluang baru untuk berkegiatan ekonomi di tempat relokasi mereka, demi kelangsungan hidup ang lebih sejahtera. (Harri Safiari) .





Comments
in finding It really useful & it helped me out much.
I'm hoping to present one thing again and
help others like you aided me.
RSS feed for comments to this post