Aneka
Sekolah dan Kekerasan Simbolik
- Details
- Published on Monday, 09 May 2016 18:15
- Hits: 24819
Kuningan Terkini - Merayakan kelulusan ujian sekolah dan ujian nasional seolah menjadi sebuah tradisi bagi sebagian pelajar kita. Di Yogya di beberapa sekolah, selebrasi kelulusan dilakukan dengan menggelar bakti sosial bahkan ada yang sampai memberikan paket sembako ke warga miskin. Di Boyolali tampak seperti yang umumnya terjadi perayaan dilakukan dengan aksi curat coret seragam sekolah dan kemudian konvoi di jalan.
Jelas kontras bedanya. Ada sekolah yang bisa dikatakan berhasil membangun karakter siswanya dan sebagian lagi bisa disebutkan gagal.
Saya mencoba ingin menyelami perasaan yang ada pada pikiran mereka saat mereka dinyatakan lulus. Saya pribadi pernah mengalami fase itu, namun saat itu saya berpikiran perjalanan hidup masih panjang dan masih banyak yang harus saya perjuangkan untuk meraih cita-cita.Jadi tak terlintas sedikit pun ingin mengekspresikan rasa bahagia karena lulus dengan aktivitas macam-macam apalagi aneh-aneh.
Nah anak-anak yang meluapkan euforianya dengan aktivitas curat-coret itu kalau saya lihat sebagian besar adalah siswa yang tidak memiliki prestasi akademik maupun nonakademik yang menonjol di sekolahnya. Tentu hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut. Apakah mereka mengalami stres kronis dan merasa tertekan selama ini sehingga seolah saat dinyatakan lulus dari sekolah bagai kuda keluar dari kandangnya? Ini juga tentu butuh pembuktian.
Namun jika membaca teori Bourdieu, secara tak sadar saat ini selama kita dididik di sekolah ternyata banyak sekali proses pendidikan ini secara tak sadar telah mewariskan kekerasan simbolik. Marx dan Gramsci menggunakan istilah hegemoni dan Giddens menyebutnya sebagai struktur.
Kekerasan simbolik dilakukan dengan cara mensosialisasikan habitus-habitus atau budaya kelas atas secara terus-menerus di sekolah dengan berbagai cara. Sementara siswa yang berasal dari kelas bawah tanpa sadar telah dipaksa mengikuti habitus tersebut. Budaya memakai seragam, dasi sepatu adalah budaya kelas atas yang dipaksakan kepada semua siswa.
Kekerasan simbolik juga dilakukan melalui materi pelajaran. Buku-buku pelajaran ternyata lebih banyak menggambarkan budaya kelas atas melalui tulisan atau gambar. Kebiasaan kelas atas setiap hari diajarkan di sekolah seperti bertamasya, merayakan ulang tahun, mencuci mobil, berangkat ke kantor, dll.
Sementara budaya masyarakat kelas bawah tak terakomodasi dan seolah sengaja tak digambarkan. Bahkan Bourdieu menyebutkan bahwa pengalaman budaya berkorelasi dengan prestasi siswa. Meskipun ada kenyataan bahwa siswa dari kelas bawah mampu meraih prestasi melampaui kelas atas, namun hal tersebut sifatnya kasuistik dan tak bisa digeneralisasi. Secara umum tetap saja siswa kelas atas berpotensi meraih prestasi lebih tinggi daripada siswa kelas bawah.
Penulis : Asep Sufyan Ramadhy (Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan)




