Parlementaria
NU Kuningan Harus Kembali ke Khittah 1926
- Details
- Published on Monday, 31 July 2017 08:22
- Written by Yan
- Hits: 26696
Kuningan Terkini - Pergantian kepemimpinan bakal kembali dialami Ormas Islam PC Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Kuningan, yang rencananya digelar, Minggu (30/7). Hal itu pun, dinilai sebagai momentum yang tepat untuk mengevaluasi sekaligus mengembalikan kiprah NU agar tetap konsisten sejak awal tujuan didirikan.
“Sebagai refleksi sejarah lahirnya organisasi NU, maka kita sebagai warga nahdliyin perlu kiranya mengetahui kembali tujuan dan usaha organisasi. Bahkan, Konfercab PC NU ini harus menjadi momentum untuk menghantarkan NU Kuningan agar tetap fokus pada gerakan sosial keagamaan, dan kembali ke Khittah NU 1926,” ucap mantan Ketum PC PMII Kuningan, Rasdi saat memberikan keterangan persnya kepada awak media.
Menurutnya, sebagai warga NU seharusnya sama-sama bisa melihat dan menilai bahwa selama ini kemana arah NU Kuningan bergerak. Apakah sudah sesuai dengan khittah NU 1926, atau mungkin keluar dari jalur yang diinginkan para pendiri NU.
“Inilah yang harus diperhatikan dalam konfercab nanti. NU Kuningan harus mampu melakukan kritik terhadap kekuasaan pemerintah maupun legislatif, apabila memang ditemukan hal-hal yang merugikan kepentingan rakyat,” tandasnya.
Selain fokus pada gerakan sosial keagamaan lanjutnya, NU yang diakui sebagai organisasi masyarakat sekaligus memiliki basis riil yang jelas, tidak boleh lagi menjadi korban kepentingan politik kekuasaan. Apakah itu oleh kepentingan para politisi, maupun kekuatan struktural NU yang lebih tinggi secara struktural.
“Kekuatan NU yang maha dahsyat harus dialihkan dari politik kekuasaan ke politik kerakyatan, yakni politik yang harus dijalankan oleh NU dalam bentuk pembelaan terhadap masyarakat marjinal. NU jangan malah terjebak dalam lingkaran kekuasaan dan menjadi tameng kekuasaan tertentu, apalagi sampai tunduk pada kekuasaan itu sendiri,” tegasnya.
Menurutnya, hal yang tidak kalah penting dan harus ditegaskan yakni NU Kuningan harus menjadikan pesantren sebagai pondasi organisasi. Arus zaman informasi dan teknologi yang serba komplek dan selalu menyisakan persoalan, menantang NU dan Pesantren harus tetap hadir di tengah-tengah masyarakat.
“NU dan pesantren harus tetap mengawal semangat kebangsaan dan persaudaraan, perbaikan-perbaikan baik sistem maupun metode dalam mempersiapkan generasi-generasi bangsa yang kompetitif, dan mempertahankan NKRI dari faham-faham yang tidak sesuai dengan Pancasila sebagai ideologi negara. Harapan ini hanya bisa terwujud atas dukungan keluarga NU Kuningan,” jelasnya.
Dirinya berharap, meomentum Konfercab NU nanti diharapkan sebagai wadah yang tepat untuk mengubah gerakan NU yang belum sesuai dengan khittah NU 1926. (yan)




