Pemerintahan
Kuningan Bangkit Diganti Kuningan Melesat, Tidak Etis?
- Details
- Published on Saturday, 29 August 2026 07:33
- Written by Admin
- Hits: 942
Kuningan Terkini- Pernyataan Bupati Kuningan yang disampaikan melalui Kepala Bagian Ekonomi terkait pembongkaran Tugu Kuningan Bangkit tidak etis, juga belum menjawab substansi persoalan yang dipertanyakan publik. Demikian disampaikan Pengamat Kebijakan Publik, Santos Johar kepada Kuningan Terkini, Sabtu (29/08/2026).
Menurutnya, bukan soal bentuk kuda, bokor, ikan dewa, atau ornamen lain yang melekat pada tugu tersebut. Unsur-unsur itu justru dapat dipandang sebagai bagian dari representasi sejarah dan budaya Kuningan yang memiliki nilai simbolik bagi masyarakat. Yang menjadi persoalan lebih substansial adalah makna di balik penghapusan identitas Kuningan Bangkit dan kemunculan jargon Kuningan Melesat.
Kuningan Bangkit kata Santos, merupakan jargon yang melekat pada era kepemimpinan Bupati Aang. Ketika simbol dan identitas yang merepresentasikan jargon tersebut dihilangkan, publik tentu dapat menangkap kesan seolah-olah karya, gagasan, dan identitas pemerintahan sebelumnya hendak dihapus dari ingatan publik.
“Di sinilah letak pertanyaan sebenarnya. Apakah perubahan jargon pemerintahan harus selalu diikuti dengan penghapusan simbol yang lahir dari jargon pemerintahan sebelumnya? Dan apakah setiap pergantian narasi pembangunan harus membuat sejarah kepemimpinan sebelumnya seolah-olah tidak pernah ada,” sindirnya.
Pertanyaan tersebut lanjutnya, tidak terjawab hanya dengan menjelaskan persoalan teknis bangunan, penataan kawasan, bentuk fisik tugu, atau alasan lain yang tidak menyentuh persoalan mengenai jargon, simbol kekuasaan, kesinambungan sejarah pemerintahan, dan penghargaan terhadap karya pendahulu.
“Ibarat orang sedang sakit gigi, tetapi diberi obat sakit gatal. Obatnya mungkin benar, tetapi penyakit yang sedang dikeluhkan tidak tersentuh sama sekali. Atau dalam bahasa yang lebih sederhana, masyarakat bertanya ke timur, tetapi pemerintah menjawab ke selatan. Ya tidak nyambung,” ujarnya.
Pemerintah daerah terang Santos, semestinya menjawab pertanyaan tersebut secara langsung. Apakah benar pembongkaran itu murni karena pertimbangan teknis dan penataan, atau ada pertimbangan lain terkait perubahan identitas dan simbol pemerintahan dari Kuningan Bangkit menuju Kuningan Melesat. Publik tidak sedang meminta pemerintah untuk mempertahankan tugu lama.
"Publik hanya meminta jawaban yang tepat terhadap pertanyaan yang tepat. Apakah pergantian jargon pemerintahan memang harus berujung pada penghapusan simbol dan jejak identitas pemerintahan sebelumnya,” pungkasnya.(j’ly)




