Pemerintahan
Mang Ewo: Toto Toharudin Berpeluang Pimpin KORPRI?
- Details
- Published on Monday, 04 January 2021 14:51
- Written by Admin
- Hits: 18191
Kuningan Terkini - Jika Sekda DR. Dian RY yang sudah 2 periode tidak kembali mencalonkan/dicalonkan sebagai Ketua Korpri Kabupaten Kuningan, tentunya akan memberi peluang kepada siapapun yang berstatus ASN di Kabupaten Kuningan untuk mendapat kepercayaan sebagai nahkoda organisasi ASN tersebut. Demikian disampaikan pemerhati Kebijakan Kuningan, Sujarwo, Senin ()4/01/2021).
Terlebih kata mang Ewo, sapaan akrabnya, ada regulasi yang menyiratkan, untuk menduduki posisi sebagai Ketua Korpri tidak mutlak harus seorang birokrat atau ASN yang menduduki jabatan tertinggi distruktur ASN di tingkat Kabupaten, yakni yang menduduki jabatan Sekda.
“Terbukanya peluang tersebut, dapat dipastikan akan menjadi ajang persaingan terbuka dari mereka (birokrat yang berstatus ASN) untuk berkompetisi mendapatkan amanah sebagai Ketua Korpri,” katanya.
Dari nama yang sudah mulai muncul akan maju mencalonkan kata Mang Ewo, nama Toto Toharudin yang saat ini menjabat sebagai Kadisporapar nampaknya cukup berpeluang pimpin KORPRI Kuningan. Selain yang bersangkutan saat ini sudah menyandang gelar akademik tertinggi yakni S3 (Doktor), sosok Toto Toharudin juga dikenal aktif pada berbagai organisasi. Dengan kata lain, sosok Toto Toharudin merupakan sosok yang aktif dalan dunia pergerakan.
“Karir yang bersangkutan di lingkup birokrasi Pemkab Kuningan termasuk cemerlang, bahkan tidak berlebihan jika mendapat predikat rising star,” tegasnya.
Selain sosok Toto Toharudin sambungnya, disinyalir masih ada sosok birokrat (ASN) lain yang akan ikut berkompetisi untuk menempati singgasana Ketua Korpri Kuningan yang akan digelar pada 7 Januari 2021. Semakin banyak kompetitor yang akan bersaing pada helatan Korpri nanti, diharapkan dapat menjadi ajang kompetisi yang lebih berkualitas dan akan menghasilkan sosok yang kualifaid sebagai Ketua Korpri.
“Yang harus dihindari dalam proses pemilihan Ketua Korpri nanti, yaitu adanya intervensi dari pihak lain serta adanya budaya restu dari pimpinan tertinggi lembaga Eksekutif,” pungksanya.(j’ly)




