Pemerintahan
Tugu Kuningan Bangkit Dibongkar, Hapus Sejarah Pendahulu?
- Details
- Published on Friday, 28 August 2026 05:39
- Written by Admin
- Hits: 603
Kuningan Terkini- Pembongkaran Tugu Kuningan Bangkit menjadi polemik ketika diganti dengan tugu berbentuk patung kuda berbalut jargon Kuningan Melesat. Bagi Pengamat Kebijakan Publik, Santos Johar, persoalannya bukan sekadar soal bentuk melainkan soal etika kekuasaan dan cara pemerintah memilih spot light penbangunan dengan anggaran terbatas seharusnya lebih jeli dalam prioritas.
Santos menilai mengganti simbol pemerintahan terdahulu hanya demi menghadirkan identitas baru berpotensi menjadi contoh buruk. Setiap pergantian kekuasaan diikuti pembongkaran jejak pendahulunya, tidak boleh sebatas legitimasi “Jangan sampai karena ingin membangun citra baru, pemerintah justru terjebak pada nafsu membangun,” katanya, Kamis (27/08/2026).
Menurut Santos, Bupati Aang bukan sekadar nama yang bisa dihapus dari ruang publik dengan alat berat. Sejarah kepemimpinan dan karya pembangunan tetap menjadi bagian dari perjalanan Kabupaten Kuningan, terlepas dari siapa yang sedang memegang kekuasaan. Karena itu, pergantian simbol pembangunan semestinya tidak dilakukan dengan cara menghilangkan simbol yang telah memiliki nilai historis.
“Masih banyak tempat untuk membuat tugu dengan identitas Kuningan Melesat. Kenapa harus merombak yang sudah ada? Kalau memang Kuningan Melesat adalah gagasan besar, buktikan dengan karya baru, bukan dengan membongkar warisan lama. Jangan sampai jargon baru berdiri di atas puing-puing sejarah,” terangnya.
Santos mengingatkan, jika logika pergantian simbol seperti ini dibiarkan, tidak menutup kemungkinan simbol-simbol pembangunan dari era pemerintahan sebelumnya akan diperlakukan dengan cara yang sama. Hari ini satu tugu, besok bukan tidak mungkin simbol lainnya.
“Hari ini Tugu Kuningan Bangkit dibongkar. Besok bisa saja Tugu Kuningan Sajati ikut dirombak demi ambisi dan branding. Kalau setiap jargon baru harus dibayar dengan menghilangkan simbol lama, lalu kapan pemerintah belajar menghormati sejarah? Apakah setiap pergantian pemimpin harus selalu diikuti penghapusan jejak pendahulu,” ujarnya.
Untuk itu kata Santos, Ia meminta Pemerintah Kabupaten Kuningan tidak gegabah dan membuka ruang dialog dengan masyarakat sebelum mengubah simbol-simbol yang memiliki nilai sejarah. Pemerintah harus mampu membedakan antara kebutuhan pembangunan dengan sekadar pergantian identitas visual.
“Pemerintahan boleh berganti, jargon boleh berubah, tetapi sejarah jangan dihapus. Kalau ingin Kuningan Melesat, melesatlah dengan prestasi, bukan dengan membongkar sejarah. Jangan sampai tugu baru lebih megah daripada capaian pemerintahannya,” pungkasnya.(jly)




