Pendidikan
Simposium Alumni Husnul Warnai Reunusa
- Details
- Published on Sunday, 31 July 2016 20:45
- Written by Lukman Hakim
- Hits: 33026
Kuningan Terkini - Salah satu acara Reuni Nusantara (REUNUSA) 2016 yangn dilasksanakan di gedung aula Raja Seafood Bandorasawetan Kuningan, Sabtu (30/07/2016) adalah Simposium REUNUSA, dengan tema “Profesi alumni, dalam menginisiasi kebangkitan negeri”. Presiden Islah periode 2014-2017, Khoirul Subhi, dalam ceramahnya, ia menyampaikan pentingnya pergerakan alumni untuk ikut andil dalam memperbaiki negeri.
“Alumni pesantren harus berani mengambil peran dalam mengatasi carut-marutnya negeri ini serta menentukan arah negeri ini,” terangnya.
Ia juga menjelaskan dengan potensi yang ada berupa jumlah dan reputasi yang baik serta prestasi-prestasi yang luar biasa ia yakin alumni pondok pesantren Husnul Khotimah mampu menentukan perubahan negara Indonesia menjadi lebih baik,” tuturnya.
Pada acara tersebut dihadiri oleh oleh Kepala Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Sabiqin, Lc, Presiden Islah periode 2014-2017, Khoirul Subhi, Kepala Divisi Humas dan Dakwah Husnul Khotimah, Sanwani, S.H. Lanjutnya, untuk dapat meraih cita-cita itu, ia melanjutkan persatuan adalah hal yang harus dijunjung tinggi. “REUNUSA mempersatukan kembali potensi individu alumni Husnul Khotimah yang selama ini seperti buih di lautan.
Simposium berikutnya dengan tema “Peran dan tanggung jawab alumni bagi almamater” diisi oleh salah satu pendiri dan pembina Yayasan Husnul Khotimah, K. H. Achidin Nur, MA. Pria kelahiran Ciamis, 12 Juni 1959 ini menyatakan, alumni adalah realisasi dari visi yang telah ditetapkan oleh pondok pesantren.
Ia menjelaskan mengenai grand protocol 50 tahun yang telah ditetapkannya bersama dengan pembina yayasan Husnul Khotimah lainnya. Diantara grand protocol itu antara lain mewujudkan ponpes Husnul Khotimah sebagai pondok pesantren terbesar di dunia, memiliki universitas Islam bertaraf nasional, memiliki Rumah Sakit Islam terkemuka di Jawa Barat, dan memiliki badan usaha yang mampu menopang operasional lembaga secara singnifikan.
“Agar dapat terlaksana, maka grand protocol ini dalam pelaksanaannya memerlukan kontribusi dari alumni,” tandasnya.
Ia juga menyatakan alumni memiliki berbagai potensi untuk mewujudkan grand protocol tersebut. Antara lain melalui perhatian berupa informasi dan ide, Public Relation, asistensi dengan kepakarannya, advokasi terhadap lembaga, melalui bantuan finansial jangka panjang maupun jangka pendek, kerjasama ekonomi, dan dengan menjadi wali santri.
Materi terakhir dengan tema “Tantangan alumni dalam menentukan perubahan negeri” disampaikan oleh Mardani Ali Sera. Intelektual muda muslim ini menyatakan Indonesia masih memiliki banyak permasalahan yang bisa diselesaikan oleh para pemuda, khususnya alumni pondok pesantren.
“Misalnya dalam hal ekonomi. Saat ini bank Syariah hanya mengendalikan 5% perekonomian di Indonesia. Sisanya dikendalikan oleh bank konvensional. Selain itu ternyata 70% perkonomian di Indonesia dikuasai oleh asing padahal populasi mereka hanya 4%,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menjelaskan permasalahan dalam segi sosial budaya. Ia mencontohkan masih banyaknya kasus narkoba dan seks bebas di kalangan pemuda Islam di Indonesia. Sebagai alumni pondok pesantren, menurutnya tantangan ini harus disikapi dengan cara membangun kekuatan. Kekuatan yang dimaksud diantaranya adalah kekuatan dalam segi mindset (pola pikir), attitude (sikap/perilaku), behavior (watak), actions (aksi nyata), results (hasil), dan performance (penampilan).
Ia menjelaskan “Dalam segi mindset misalnya, alumni pondok pesantren harus mulai membenahi cara berpikirnya. Jangan hanya memandang sesuatu hal dari sisi yang negatifnya saja, karena setiap hal memiliki sisi positifnya juga.” (l.hakim)





Comments
RSS feed for comments to this post