• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata

Mon02112026

Last updateWIB3_SunPMWIBE_November+0700RNovPMWIB_0PMstWIB1793535734+07:00SunPMWIBE

Politik

Terkait Pilkada, Rana Enggan Bicara

Rana Suparman

Kuningan Terkini - Dinilai ajang Pilkada 2018 yang masih terlalu jauh, Ketua DPRD Kabupaten Kuningan, Rana Suparman masih enggan berbicara terlalu dini soal pencalonan sebagai kepala daerah dari partainya. Bahkan, saat ini dirinya sama sekali belum memikirkan untuk mencalonkan diri pada pilkada 2018 mendatang.

Rana Suparman sekaligus sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kuningan kepada awak media, Jumat (25/9/2015), mengaku, secara pribadi dirinya belum memikirkan Pilkada. Apalagi diakui, jabatan sebagai ketua partai saat ini dinilai masih berumur bulanan.

“Sekarang saya sedang berpikir bagaimana berbuat untuk membesarkan partai. Bagaimana nanti agar menang lagi pemilu dengan penambahan kursi di legislatif,” katanya.

Menurutnya, masiih banyak tugas dan PR yang masih harus dikerjakan. Bahkan, sangat tidak baik apabila dalam kapasitasnya saat ini malah hanya mementingkan kepentingan pribadinya.

“Sekarang saya hanya berpikir bagaimana tercipta masyarakat PDIP yang paham ideologi serta memiliki kesantunan dalam berpolitik. Juga bagaimana tercipta masyarakat PDIP berbudaya, punya kemandirian dalam ekonomi, mampu mengejawantahkan 4 pilar kebangsaan, menjadi insane berpancasila dan berbhineka,” ungkapnya.

Jika mendengar informasi bahwa saat ini ada seseorang yang terlihat ‘blusukan’, justru dirinya merasa heran. Namun, rakyat kini sudah pandai dalam menilai siapa yang tergolong ambisius untuk menjadi bupati. Rakyat juga akan menilai motivasi apa yang mendasari ambisinya itu.

“Pada saat kita sedang bekerja, rakyat lagi bekerja, lalu dia grasak-grusuk, mau ngapain? Lalu ada apa dibalik orientasi itu,” tanyanya heran.

Walaupun demikian, dugaan ‘blusukan’ tersebut menurutnya tergantung dari persepsi masyarakat. Jika dirinya datang ke desa dianggap blusukan maka akan divonis sedang grasak-grusuk. Kalau bupati turun ke bawah dianggap masyarajat kampanye, berarti grasak-grusuk.

“Saya datang ke desa, itu karena memenuhi undangan. Masa sudah dipilih rakyat, ketika diundang rakyat tidak datang. Nanti kita dikira sombong dan jauh dari rakyat. Berarti enggak menyatu antara hati, pikiran dan perbuatan. Saya bicara ideology, gotong royong, tapi pas diundang rakyat enggak datang. Lalu partai enggak diurus, berarti tidak menyatu antara hati, pikiran dan perbuatan,” paparnya.

Selaku ketua partai, Rana mengaku banyak PR yang harus dikerjakan. Sangat tidak baik apabila dalam kapasitasnya seperti sekarang dirinya malah mementingkan kepentingan pribadi. Sekarang dirinya hanya berpikir.(AND)

Add comment


Security code
Refresh


Fishing