Fri01052026

Last updateWIB3_TueAMWIBE_April+0700RAprAMWIB_0AMthWIB1777346359+07:00TueAMWIBE

Wisata

BTNGC Kembangkan Pola Tanam Miyawaki

BTNGC

Kuningan (KaTer) - Tahun 2013, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) Kabupaten Kuningan mencatat sedikitnya 3500 hektar kawasan Gunung Ciremai dari 15500 hektar dalam kondisi kritis. Hal tersebut, karena belum ada pohon tegakan dengan kerapatan tinggi, hanya berupa semak belukar ketika musim kemarau datang rawan terbakar.

"Untuk menutupi lahan yang kritis ini kami mengadopsi sistim tanam asal Jepang dengan metode Miyawaki, dimana dapat cepat merestorasi lahan atauh hutan yang kritis yang dapat menjamin pertumbuhan tanaman berdasarkan pada prinsip ekologi," ujar Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai Dulhadi kepada KaTer, Minggu (19/1/2014).

Metode tanam Miyawaki kata Dulhadi, merupakan pola tanam pohon dengan kerapatan tinggi. Sehingga, setiap tanaman berkompetisi untuk mendapatkan cahaya matahari dan nutrisi untuk pertumbuhunannya. Secara umum, ukuran lubang tanam adalah 30x30x30 cm dengan jarak tanam yang sangat rapat sekitar 70 cm.

“Tumbuhan membutuhkan cahaya matahari untuk proses fotosintesis guna menghasilkan energi. Sehingga setiap tanaman akan berkompetensi untuk mendapatkan cahaya matahari. Dengan metode Miyawaki tumbuhan yang kalah bersaing dan tidak dapat mentoleransi tutupan tumbuhan diatasnya maka akan mati secara alami," imbuhnya.

Untuk menghindari kompetisi unsur hara dan air sambung Dulhadi, metode Miyawaki tidak menggunakan satu spesies tanaman, tetapi digunakan banyak jenis tanaman. Karena, setiap jenis memiliki karakteistik ruang yang berbeda dalam beradaptasi lingkungan.

"Adanya proses seleksi alami tersebut menyebabkan tingkatan yang lebih tinggi akan dapat terlihat jenis pohon pioner yang memberikan tutupan pada tahapan awal pertumbuhan. Gulma dibawah akan mati sendiri, tetapi penentuan jenis pionir dan jenis lainnya tidak dapat ditentukan secara langsung karena setiap daerah memiliki kondisi lingkungan yang berbeda,"katanya.

BTNGC jelas Dulhadi, telah menanam metode Miyawaki di Blok Lambosir, Blok B 5, dan Blok Berod Argamukti Kabupaten Majalengka, dengan jenis pohon Salam, Ambit, Huru, Puspa, Kedoya, Peutag, Kicangkudu, Solatri, Picung, dan Kapundung. "Kami tidak menanam semua dilahan yang kritis, hanya jumlah kesluruhannya mencapai satu hektar jumlah pohon 20.000 batang, diharapkan jika sudah besar terjadi penyebaran secara alami dilahan yang kosong," pungkasnya. (DHE)

Add comment


Security code
Refresh


Fishing